Tuesday, October 29, 2013

Catatan Perjalanan RACING STAR #2 MAKASSAR BACKPACKER 2012

Istana Naga Sakti "Xian-Ma"

Kabut tipis perlahan jatuh diujung cakrawala di bumi celebes, aku menengok jam dipergelangan tangan menunjukkan angka 05.45 wita, perjalanan semalam dari Kalimantan Timur menuju Makassar membuatku lelah hingga terlelap dan hampir saja kesiangan, aku bergegas membasuh diri dan segera menuju Benteng Fort Rotterdam tempat starting point racing star#2 berlangsung, Benteng ini merupakan peninggalan dari jaman Belanda, di starting point ini kami diberikan pengarahan oleh panitia dan saya pun dipasangkan dengan Rifah Sakinah  salah satu anggota Makassar Backpacker, setelah mendapatkan penjelasan dari panitia, kami pun dipersilahkan jalan dan kami diberikan amplop tertutup yang berisi clue untuk menuju spot pemberhentian selanjutnya, kelompok kami mendapat giliran urutan yang ketiga dikarenakan racing mate saya terlambat 12 menit, sehingga kami diberi penalti.
Setelah membuka amplop yang diberikan sambil berjalan kaki kami harus menuju Spot Pertama dan menemukan Pasar Tradisional tertua dan yang pertama ada di Makassar yang masih bertahan sampai sekarang, pasar ini banyak dikunjungi oleh warga Tionghoa karena selain letaknya yang masih dikawasan Pecinan tapi banyak dijual berbagai makanan dan perlengkapan sembahyang mereka, Pasar yang terletak di jalan Bacan ini dulu disebut sebagai pasar Cina Toa (Paccinang) merujuk pada pembelinya yang kebanyakan warga Tiong Hoa, setelah bertanya sana sini, akhirnya kami menemukan Pasar yang dimaksud, di Spot ini para peserta diberi tantangan untuk membeli bahan-bahan yang terdapat dalam gulungan kertas yang diambil sendiri oleh peserta dan harga tidak boleh lebih dari Rp.5.000, tim kami mendapat gulungan kertas yang bertuliskan “Lombok” karena naluri sebagai seorang Backpacker yang harus meminimalkan biaya, akhirnya setelah melalui proses tawar menawar dengan penjual, kami mendapat Lombok dengan harga seribu rupiah saja.
Setelah selesai berbelanja di pasar Bacan kami segera menemui panitia dan mendapatkan amplop untuk menuju Spot kedua yaitu Rumah Ibadah umat Budha yang berada dijalan Sulawesi tidak jauh dari Pasar Bacan, Rumah ibadah tersebut dijuluki sebagai “Istana Naga Sakti” atau Xian Ma, setiap lantainya memiliki dewa-dewa yang berbeda-beda untuk dipuja. Di Spot ini peserta diberi tantangan untuk mencari minimal 3 dewa beserta tugas dewa tersebut dimasing-masing lantainya. Setelah menyelesaikan tantangan yang diberikan akhirnya kami pun mendapat clue selanjutnya untuk menuju ke Spot ketiga, kali ini spotnya terlalu jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki sehingga kami pun harus menggunakan metode hitchiking yaitu menumpang kendaraan tanpa harus mengeluarkan biaya. Spot ketiga adalah Vihara tertua, terbesar dan tertinggi di makassar, bangunan yang berbentuk pagoda ini memiliki sembilan tingkat, letaknya diapit Jl. G. Latimojong dan Jl. Veteran, lama berhenti dan menunggu dipinggir jalan akhirnya ada yang berbaik hati memberikan kami tumpangan, sebuah mobil box kosmetik berhenti didepan kami berdua dan tanpa basa basi kami segera naik dan menuju ke spot ketiga tetapi karena tujuannya berbeda sehingga kami pun turun dan menumpang menggunakan mobil pick up terbuka sampai kedepan lorong masuk Vihara. Tantangan di spot ini cukup menguras tenaga, kali ini peserta diberi tantangan untuk menghitung jumlah anak tangga yang ada di vihara tersebut hingga ke lantai sembilan. Dengan membawa beban tas yang berat dipunggung sambil tertatih langkah kaki perlahan menaiki anak tangga satu per satu, Vihara yang memiliki 189 anak tangga  ini masih dalam tahap pembangunan.
Patung Budha Di  dalam Pagoda
Setelah mendapatkan Clue selanjutnya di lantai sembilan, kami pun bergegas turun menuju spot keempat yaitu sebuah sumur tua dimana pusaka peninggalan kerajaan gowa hanya bisa dicuci dari air sumur ini, sumur ini merupakan salah satu dari 3 sumur kerajaan Gowa selain Sumur Bissua dan Sumur Kabaraniang yang lokasinya masih saling berdekatan. Sumur ini tidak jauh dari kompleks pemakaman Raja Gowa yang paling familiar dan makam sahabatnya yang juga Raja Bone. Perjalanan menuju spot keempat masih tetap menggunakan hitciking, dan kami bertemu dengan tim Hiksan dan Aspar dalam satu mobil pick up, setelah turun didepan lorong kami bertemu dengan racing mate yang lain (Yanti dan Nisya), (Burhan dan Andi), (Amin dan Rahmat), (K’Asni dan Yesti), (Firman dan Gita), (Bali dan Tajab) serta pasangan yang selalu terdepan karena menggunakan taxi adalah (EfDe dan Feby).
Tantangan kali ini terbilang gampang-gampang susah, tantangan kali ini adalah mencari tahu Sejarah Bungung -dalam bahasa lokal yang berarti sumur- Bissua, susahnya adalah karena sebagian besar masyarakat yang berdiam disana tidak tahu mengenai sejarah bungung Bissua itu sendiri, yang mengetahui adalah pak RT setempat, namun yang bersangkutan sedang ada rapat di kecamatan, sehingga kami pun harus banyak menghabiskan waktu untuk bertanya kepada warga sekitar. Menurut penuturan warga sumur bissua adalah tempat para mandi para Bissu –dukun yang memiliki kepribadian ganda – para bissu mandi untuk mengetahui jenis kelamin mereka, apakah mereka Perempuan, Laki-Laki, Setengah Perempuan, Setengah Laki-Laki dan tidak memiliki alat kelamin.
Dari Bungung Bissua kami mendapat clue untuk meneruskan perjalanan menuju spot kelima yaitu sebuah Danau yang sangat jaya di era 80-an sebagai obyek ekowisata kabupaten Gowa, ditempat ini pernah terjadi pertarungan kehebatan 3 wali (Syeikh Yusuf, Dato Pagentungan, Lo’mori Antang) sehingga muncul istilah “Ammawang Ngasengmi Pa’ngissenganna” yang merupakan asal muasal penamaan Danau ini. Di Tempat ini jugalah berada kediaman para jemaah An-Nasir.
Jarak yang terlampau jauh untuk menuju Spot ini mengharuskan kami untuk  menumpang sebanyak 3 kali, yang pertama dengan menggunakan pick up hingga depan jalan Allauddin kemudian dilanjut dengan menggunakan pick up menuju jalan poros malino dan ditengah perjalanan hujan pun turun sehingga kami semua basah kuyup, dan kami pun berteduh sejenak didepan rumah warga, setelah hujan reda kami melanjutkan untuk mencari kendaraan yang bisa membawa kami menuju Danau Mawang, dan akhirnya kami mendapat tumpangan sebuah mobil Satpol PP, bak habis dirazia Gepeng (Gelandangan dan Pengemis) oleh satpol PP mau tidak mau kami  harus menumpang dan memasang muka tembok sampai menuju pintu gerbang Danau Mawang, ditengah perjalanan kami bertemu dengan racing mate yang lain yaitu (Amin dan Rahmat), sehingga kami berenam (Hiksan dan Aspar) serta saya dan Inah melanjutkan perjalanan menuju Danau Mawang. Di spot ini kami ditantang oleh panitia untuk menjodohkan nama serta gambar pahlawan yang ada di lembaran kertas. Tidak memerlukan waktu yang lama kami pun langsung diberi clue spot selanjutnya yang merupakan check point di Spot 6 yaitu sebuah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) terbesar di Makassar sejak dibangun pada tahun 1993, semua sampah yang ada di Kota Makassar dan sekitarnya (300 ton/hari) berakhir disini, kemudian kami disuruh untuk mencari sekolah pemulung.
Setelah meminta air minum dirumah warga kami segera menuju TPA Antang dengan menggunakan mini pick up Katana yang hanya memuat 4 orang saja karena kami selalu berempat (Hiksan dan Aspar) Saya dan Inah dengan mudah bisa sampai terlebih dahulu menuju TPA, untuk menuju ke TPA kami harus dua kali mengganti mobil tumpangan dan sebuah mobil Truk berisi Batako mengantar kami berempat menuju TPA Antang.
Sekolah Pemulung di TPA Antang
Bau busuk yang menusuk hidung membuat kami harus memiliki mental yang kuat agar para pemulung tidak merasa didiskriminasi karena pekerjaan mereka, lalat yang berterbangan serta pemandangan yang kumuh Nampak didepan mata, kami pun sampai ke sekolah alam pemulung, disini kami mengadakan bakti sosial, menyerahkan beberapa lembar pakaian layak pakai dan beberapa sembako yang sebelumnya memang telah kami persiapkan atas interuksi panitia. Tak perlu berlama-lama panitia pun memulai tantanganny, di spot ini kami ditantang untuk mengumpulkan sampah plastik yang masih bernilai ekonomis untuk dijual seberat 500 gram. Tanpa dikomando lagi kami pun segera berlari menuju tumpukan yang menyerupai gunung yang berisi sampah, beruntung tim kami mendapat kesempatan pertama dan ditemani oleh anak-anak pemulung, entah karena muka saya seperti artis sehingga banyak anak-anak yang mendekat atau lebih tepatnya mirip badut ancol, tapi justru tim kami terbantu dengan keadaan yang seperti demikian, sehingga kami pun mendapat kurang lebih 1 kilo sampah yang terkumpul yang berarti melebihi target dan mendapat kesempatan pertama untuk melanjutkan perjalanan menuju spot selanjutnya. Rintik hujan mulai turun kami pun terus melesat bahkan berlari-lari kecil keluar menuju jalan raya dan menunggu kendaraan yang lewat dan memberikan kami tumpangan menuju spot selanjutnya. Spot selanjutnya adalah pulau Lakkang, akses menuju pulau ini dengan menggunakan perahu dan dipulau ini terdapat bunker Jepang. nah mau tau cerita selanjutnya, tunggu cerita selanjutnya yah..

bersambung
Ipoel Taripang


Istana Naga Sakti


Beruntung mendapat tumpangan mobil mewah

Naek Perahu menuju Pulau Lakkang



Friday, August 30, 2013

Peranan Pemuda Dalam Menggerakkan Pembangunan Di Pedesaan

Pemuda adalah sumberdaya manusia yang sangat potensial dalam pembangunan karakter bangsa, didalam diri pemuda terdapat ideologi yang mampu memberikan arah perubahan dalam pembangunan bangsa pada umumnya dan pembangunan di pedesaan pada khususnya.
Dalam era Orde Baru, para pemuda kembali merapatkan barisan bersama masyarakat, buruh tani, masyarakat desa yang tertinggal untuk melakukan suatu perubahan. Pemuda dituntut untuk dapat menjadi garda depan bangsa yang mampu menggerakkan dan menjadi motivasi bagi pemuda di pedesaan untuk melakukan suatu perubahan yang secara berkelanjutan di desa-desa yang tertinggal melalui program Pemuda Sarjana Penggerak Pembangunan di Perdesaan (PSP3). Para pemuda dapat berperan sesuai dengan fungsinya sebagai agent of change (agen perubahan) yang mampu untuk menggerakkan pemuda lainnya dan masyarakat di pedesaan serta sebagai control sosial di masyarakat.
Pemuda menjadi ujung tombak perubahan peradaban bangsa, serta dapat menjadi titik balik perjuangan para pemuda pendahulunya. Bersama masyarakat yang tertinggal di pedesaan untuk melakukan perubahan pembangunan di desa-desa tertinggal melalui pilar-pilar pembangunan yang antara lain :
1.       Pendidikan
Pendidikan merupakan suatu kebutuhan mendasar bagi masyarakat pedesaan, sehingga peranan pemuda adalah pemberantasan buta aksara atau buta huruf bagi masyarakat di pedesaan serta mendapatkan akses yang layak seperti fasilitas sarana dan prasarana pedidikan yang layak, sehingga pemuda dapat menghapus paradigma lama bahwa masyarakat di pedesaan berpendidikan rendah, bodoh dan kolot.
2.       Kesehatan
Kesehatan adalah factor utama masyarakat desa untuk bisa melakukan aktivitas kesehariannya, untuk itu peran pemuda dalam menggerakkan pembangunan di pedesaan seharusnya dapat memperhatikan dan fokus kepada factor kesehatan yang mendasar, seperti fasilitas kesehatan serta pemuda dapat memberikan akses kesehatan yang layak dan tepat guna
3.       Lingkungan
Lingkungan menjadi ujung tombak bagi semua pilar yang ada, lingkungan dapat mempengaruhi salah satu pilar-pilar tersebut melalui pendidikan lingkungan masyarakat di pedesaan mendapatkan manfaat dari potensi-potensi sumberdaya alam yang ada di desa. Selain itu Kesehatan Lingkungan yang baik dan layak seperti sanitasi lingkungan yang baik dan terprogram dapat menjadi penyokong bagi pembangunan-pembangunan di pedesaan.
Mengutip pidato dari soekarno tentang pemuda “ Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, Beri aku 10 Pemuda , niscaya akan kuguncangkan Dunia”
“Bukan Titik yang membuat Tinta, tapi Tinta yang membuat Titik,
Bukan Sejarah yang mengukir Pemuda, tapi Pemuda yang mengukir Sejarah”

Jakarta, 31 Agustus 2013
Muhammad Siapul

Monday, July 29, 2013

BAB YANG HILANG “NAPAK TILAS PENINGGALAN KERAJAAN KUTAI DI MUARA KAMAN KALIMANTAN TIMUR”

Prasasti 1
Matahari mulai meninggi, teriknya sangat menyengat kulit, namun tidak menyurutkan semangatku bersama teman yang ku kenal dari Samarinda Backpacker untuk napak tilas menuju situs peninggalan sejarah Hindu-Budha di Nusantara, Kerajaan Kutai Martadipura, tanpa ada perencanaan yang matang dan petunjuk yang jelas mengenai keberadaan situs peninggalan prasasti Yupa Mulawarman, kami pun nekat melakukan napak tilas mencari tahu keberadaan peninggalan sejarah Kerajaan tertua bercorak Hindu-Budha di Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kertanegara.
Prasasti 2
Perjalanan yang menghabiskan waktu sekitar 2,5 jam dari samarinda menuju Muara Kaman, melalui beberapa desa dan salah satu desa yang mengalihkan perhatian saya adalah Pemukiman Penduduk Hindu Bali yang melakukan transmigrasi pada tahun 80-an di Desa Kertha Buana (L4), sehingga mengingatkanku pada perkampungan penduduk di Bali yang ditandai dengan adanya Pura dihalaman rumah mereka, tak hanya itu saja danau yang berada dilembah desa ini juga memukau perhatian saya, danau yang dipenuhi dengan tambak apung milik masyarakat didesa ini apabila dilihat dari atas sangat indah, perjalanan kami pun terus berlanjut melewati perkebunan kelapa sawit dan lokasi tambang batu bara, serta pemandangan sawah dikanan-kiri jalan yang masih menghijau, menandakan bahwa baru saja ditanam.
Perjalanan panjang yang sangat melelahkan ini membuat kami  memutuskan untuk sejenak beristirahat di Desa Separi Besar, setelah merasa cukup beristirahat dan meregangkan otot sejenak kami pun melanjutkan perjalanan, jalan bebatuan yang panjang dan berkelok sangat melelahkan kami, kami pun sempat berputus asa, dikarenakan jalan bebatuan tersebut seolah tak berujung dan dikiri-kanan jalan hanya pemandangan ladang masyarakat saja, hanya ada beberapa saja pondok-pondok ditengah ladang yang usang ditinggalkan oleh penghuninya.
Namun, semangat kami untuk ingin mengetahui peninggalan sejarah peradaban manusia pertama di Indonesia dan menelusuri jejak peninggalan sejarah Kerajaan yang bercorak Hindu-Budha di Nusantara tepatnya Kerajaan Kutai sangat kuat, sehingga rasa lelah pun pergi dengan sendirinya setelah mendapatkan titik cerah dari pengendara sepeda motor yang kami singgahi untuk bertanya arah jalan menuju desa Muara Kaman Ulu, dan akhirnya kami pun tiba di Desa Muara Kaman, Desa yang tak begitu ramai penduduknya ini sangat asri dan suasana tenang dan sepi sangat terasa.  Kami pun sejenak menuju Kantor Kecamatan Muara Kaman Ulu untuk mencari informasi mengenai 7 prasasti Yupa penginggalan Kerajaan Kutai atau yang lebih dikenal Kerajaan Mulawarman atau Kutai Ing Martadipura.
Koleksi Prasasti Museum Kutai Ing Martadipura
Kami bertemu dengan bapak Arsil, staff kecamatan dan merupakan anggota Lembaga Adat Besar menuturkan bahwa lokasi pertama kali Kerajaan Kutai terletak dipinggiran sungai Kedang Rantau, percabangan anak sungai Mahakam, Kerajaan ini berdiri dari abad ke-4 Masehi yang mulanya dipimpin oleh Raja Kudungga yang memiliki anak bernama Aswawarman dan memiliki cucu bernama Mulawarman. Dan ditempat ini lah dahulu sebagai pusat penyebaran agama Hindu-Budha berasal.

SEJARAH KERAJAAN KUTAI MARTADIPURA
Museum Kerajaan Mulawarman Kutai Ing Martadipura
Menurut literature yang ada mengatakan bahwa Raja Kudungga adalah pembesar kerajaan dari kerajaan Campa (Kamboja) yang bergelar anumerta dewawarman yaitu Raja yang mendirikan Kerajaan yang berhubungan sangat baik dengan India, dan tak heran di masa itu daerah ini sebagai pusat penyebaran agama Hindu dan sebagai pusat perdagangan. Raja Kudungga memiliki anak yang bernama Aswawarman yang bergelar Wangsakerta yang berarti pembentuk keluarga dan memiliki anak yang bernama Mulawarman Nala Dewa, pada masa pemerintahan Raja Mulawarman ini lah Kerajaan Kutai mengalami masa kejayaannya, sebenarnya Nama Kutai diambil dari para ahli pada tahun 1870 yang melakukan penelitian di Muara Kaman, Nama Kutai sendiri adalah nama daerah tempat ditemukannya 7 prasasti Yupa Mulawarman yang mengangkut sejarah Kutai Martapura yang selalu disebut-sebut dengan nama Kerajaan Nama Kutai mulawarman namun tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini dan memang sedikit informasi yang diperoleh.
Prasasti 3
Pada Masa Pemerintahan Raja Mulawarman, Kerajaan Kutai mengalami masa keemasan, wilayah kekuasaannya meliputi hamper seluruh wilayah Kalimantan Timur, hal ini menurut penuturan Bapak Effendi penjaga Museum Kutai Ing Martadipura, bahwa pernah ada ditemukan arca Agastya didalam Gua Kombeng yang sekarang masuk ke dalam Kabupaten Kutai Timur tepatnya di Kec. Kongbeng, dan arca Budha di Kota Bangun (Bernet Kempers 1959) kedua acara ini menjadi koleksi Museum Nasional Jakarta, tidak hanya itu penemuan selanjutnya berada di seberang sungai Kedang Rantau ditemukan kuburan-kuburan tua yang diperkirakan kuburan tua Martapura.
Prasasti 4
Sebelum arca Agastya dan Arca Budha ditemukan, pada tahun 1870 ditemukan pula 7 Prasasti Yupa yang menjelaskan masa keemasan Raja Mulawarman yang dipersembahkan dan dibuat oleh Para Brahmana atas kedermawanan Raja Mulawarman Nala Dewa yang menyumbangkan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana yang datang pada saat upacara tersebut, Sehingga para Brahmana membuat Prasasti sebagai tanda terima kasih berupa 4 buah tugu (batu prasasti yang disebut Yupa), 2 buah Lencana Kerajaan yang terbuat dari Emas dan Patung Kura-kura Emas yang disimpan oleh seorang keturunan Raja-raja di Muara Kaman. Prasasti tersebut telah dibawa ke Jakarta sebagai Koleksi Museum Nasional, sehingga koleksi yang berada didalam Museum Kutai Ing Martadipura adalah 7 buah Prasasti duplikatnya, namun ada lagi satu peninggalan kerajaan Mulawarman yang masih berada ditempat aslinya adalah Lesung Batu yang diperkirakan berukuran panjang sekitar empat meter, Menurut Mitos yang beredar, Lesung Batu ini pernah akan dibawa ke Jakarta, namun tidak ada satu pun yang dapat memindahkannya dari tempat asalnya dengan menggunakan alat sekalipun, Lesung Batu  ini menurut warga setempat sangat dikeramatkan, dan sampai sekarang banyak warga  keturunan Hindu mengadakan upacara keagamaan di sekitar  Lesung Batu ini, bahkan banyak warga dari Pulau Dewata dan India yang khusus datang untuk melakukan ritual keagamaan disekitar Lesung Batu ini.
NAMA-NAMA RAJA  KERAJAAN KUTAI
Prasasti 5
Prasasti 6
Prasasti 7
1.       Raja Kudungga, gelar anumerta Dewawarman adalah Raja yang mendirikan Kerajaan Kutai
2.       Raja Aswawarman (anak Kundungga)
Aswawarman adalah Anak Raja Kudungga.Ia juga diketahui sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai sehingga diberi gelar Wangsakerta, yang artinya pembentuk keluarga. Aswawarman memiliki 3 orang putera, dan salah satunya adalah Mulawarman.
3.       Raja Mulawarman (anak Aswawarman)
Mulawarman adalah anak Aswawarman dan cucu Kundungga. Nama Mulawarman dan Aswawarman sangat kental dengan pengaruh bahasa Sanskerta bila dilihat dari cara penulisannya.
4.     Maharaja Marawijaya Warman
5.     Maharaja Gajayana Warman
6.     Maharaja Tungga Warman
7.     Maharaja Jayanaga Warman
8.     Maharaja Nalasinga Warman
9.     Maharaja Nala Parana Tungga
10.  Maharaja Gadingga Warman Dewa
11.  Maharaja Indra Warman Dewa
12.  Maharaja Sangga Warman Dewa
13.  Maharaja Candrawarman
14.  Maharaja Sri Langka Dewa
15.  Maharaja Guna Parana Dewa
16.  Maharaja Wijaya Warman
17.  Maharaja Sri Aji Dewa
18.  Maharaja Mulia Putera
19.  Maharaja Nala Pandita
20.  Maharaja Indra Paruta Dewa
21.  Maharaja Dharma Setia

BERAKHIRNYA KERAJAAN KUTAI
Prasasti Yupa Lesung Batu
Kerajaan Kutai Ing Martadipura mengalami kehancuran dan berakhir pada saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia yang tewas dalam peperangan dengan Kerajaan Kutai Kertanegara ditangan Raja Kutai Kertanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa Kerajaan Kutai Kartanegara berbeda dengan Kerajaan Kutai Martadipura atau Kerajaan Mulawarman. Kerajaan Kutai Kartanegara yang kemudian menjadi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura berdiri pada awal abad ke-13 di daerah yang bernama Tepian Batu atau Kutai Lama (Tanjung Kute) yang kini menjadi sebuah desa di wilayah kecamatan Anggana dengan Raja Pertamanya adalah Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325). Kerajaan ini disebut dengan nama Kerajaan Tanjung Kute dalam kitab Kakawin Nagarakartagama, yaitu salah satu daerah taklukan di Pulau Kalimantan oleh Patih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit.
Pada abad ke-16 Kerajaan Kutai Kartanegara dibawah pimpinan raja Aji Pangeran Anum Panji Mendapa berhasil menaklukkan Kerajaan Kutai Mulawarman yang terletak di Muara Kaman. Sehingga nama kerajaan diganti menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura sebagai peleburan dua kerajaan tersebut.
Prasasti Yupa Lesung Batu
Pada abad ke-17, agama Islam yang disebarkan Tuan Tunggang Parangan diterima dengan baik oleh Kerajaan Kutai Kartanegara yang saat itu dipimpin Aji Raja Mahkota Mulia Alam. Setelah beberapa puluh tahun, sebutan Raja diganti dengan sebutan Sultan. Sultan Aji Muhammad Idris (1735-1778) merupakan sultan Kutai Kartanegara pertama yang menggunakan nama Islami. Dan kemudian sebutan kerajaan pun berganti menjadi Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura.
Kesultanan ini sempat mengalami perpindahan ibukota kerajaan sampai tiga kali, mulai dari Kutai LamaPemarangan (Jembayan) hingga ke Tepian Pandan (Tenggarong).

Muara Kaman, 27 Juli 2013



Sumber : Berbagai sumber
















Wednesday, April 17, 2013

MENGUAK ISI PERUT BUMI PAMPANG

Berfoto Bersama di Pintu Keluar Gua Pampang

Siang yang terik, aku bergegas memasukkan tenda, trangia dan peralatan kempingku ke dalam tas ranselku, yah hari ini aku akan menuju salah satu gua yang tak banyak orang mengenalnya di daerah samarinda. Setelah chatting semalam bersama teman-teman Samarinda Backpacker aku pun memutuskan untuk bergabung kedalam kegiatan gathering mengeksplore gua yang berada di kawasan air terjun pampang, samarinda.
Setelah kurasa tak ada lagi barang yang ketinggalan aku menuju terminal bus Bontang, dua setengah jam perjalanan menuju samarinda membuat badan terasa lelah karena jalan Bontang-Samarinda yang masih dalam tahap perbaikan belum kunjung selesai.
@@@
Setelah bertemu dengan teman-teman samarinda Backpacker dan Balikpapan Backpacker, kami pun berangkat menuju utara samarinda, dengan mengendarai sepeda motor bersama enam belas orang yang mengikuti gathering ini, aku pun sempat tertinggal dengan rombongan dibelakang.
Perjalanan yang memakan waktu 45 menit dari Samarinda melewati jalan yang berlubang dan menanjak dan sesekali aku pun harus turun dari motor karena kelebihan muatan, entah berat badanku yang berlebih atau barang bawaanku yang berat, entahlah. Setelah terombang-ambing dijalan yang berlubang, akhirnya aku sampai di tempat penitipan motor di desa pampang, di desa ini bukan hanya sebagai desa wisata yang menampilkan kebudayaan suku dayak kenyah saja, tetapi panorama alamnya pun sangat indah untuk dijelajahi salah satunya adalah gua yang akan kami eksplore nanti.
Narsis di dalam Gua Pampang
Perjuangan tak sampai disitu, karena kami tertinggal dibelakang dari rombongan yang sebelumnya berangkat, kami pun sempat nyasar, untunglah insting si Henny, satu-satunya wanita dirombongan kami, aku, dwi dan david mengenai navigasi darat dan meskipun tidak merasa yakin namun indera penciumannya sangat tajam merekam setiap jejak kaki yang lewat, melewati rimbunan kebun kates dan rimbunan pohon Macaranga gigantea menandakan bahwa hutan ini memiliki tipe hutan sekunder muda yang pernah mengalami degradasi akibat perkebunan dan permukiman warga serta adanya tambang batu gunung serta kandungan batu bara dikawasan ini menjadikan kawasan ini penting untuk dijaga dan dilestarikan, potensi alam yang sangat menarik bagi wisata minat khusus ini harus segera dikelola dengan baik agar keberlangsungan dan keindahan tempat ini tidak rusak.
Suara dentuman yang lumayan cukup terdengar ditelingaku yang berjalan dibelakang rombongan membuatku mempercepat langkah menuju kedepan, dan ternyata Henny si ahli navigasi darat handal kami terjerembat dan terjatuh ketika menuruni jalan setapak yang licin didepan sempat terlintas dipikiranku ada kates ranum yang jatuh, tetapi ternyata super women kami yang terjatuh. Tak ayal suara tawa memecah keheningan. Tak berapa lama berjalan kami pun mendengar suara aliran air yang cukup deras dan bertemu dengan beberapa kelompok pecinta alam yang sudah terlebih dahulu kemping disana, serta ada pula yang menggunakan tempat ini sebagai tempat untuk pendidikan dan Latihan dasar pecinta alam.
Tak jauh berjalan melewati punggungan bukit yang curam, sampailah kami di pos 2 dan bertemu dengan rekan-rekan yang lain, tidak ingin membuang waktu banyak karena hari telah menjelang magrib, kami memutuskan untuk mendirikan tenda ditempat yang tidak biasanya, karena kemping ground telah dipakai oleh kelompok mapala yang melakukan pendidikan disana.
Tetap Narsis meskipun belum mandi
Setelah melakukan survey lokasi untuk mencari kemping ground yang baru, kami memutuskan untuk mendirikan tenda tidak jauh dari sungai, kami pun berbagi tugas laki-laki mendirikan tenda dan perempuan yang dipimpin oleh Rahmayana Rebang dengan keahlian alami yang dimilikinya ibu satu anak ini yang berasal dari Kutai Barat dengan sepeda motor kesayangannya yang selalu menemani di setiap perjalanannya hingga Kalimantan selatan ini dibantu dengan Ria Lestari wanita yang memiliki mata empat ini karena memakai kacamata, dan teman-teman yang lain memasak untuk makan malam kami, sembari menunggu masakan dan tenda telah berhasil didirikan kami pun bermain kartu Uno.
Suara serangga malam serta bisikan aliran sungai yang merindukan muara sangat terdengar jelas memecah keheningan malam, setelah makan malam bersama diatas sebuah daun yang dibentangkan mengingatkanku pada orientasi medan yang pernah aku ikuti di kelompok pecinta alam, rasa kebersamaan dan kekeluargaan pada saat itu tercipta yang tak dapat kami lupakan, dipertengahan kami menyantap hidangan makan malam kami, kami didatangi oleh wanita yang memakai syal kuning, dan mengingatkan kami untuk tidak terlalu ribut karena mereka melakukan pendidikan pecinta alam disana, membuat kami malah menambah  besar volume suara kami, kami pun datang untuk melakukan pendidikan dan kami pun memiliki hak yang sama untuk dapat menikmati keindahan alam yang ada disana.
Setelah membersihkan peralatan makan, kami kembali berkumpul dan duduk dibawah tenda utama, kegiatan pun dimulai dengan perkenalan dan sharing pengalaman bersama teman-teman backpacker yang hadir, gathering kali ini diikuti oleh 17 orang yang berasal dari berbagai wilayah di Kalimantan Timur mulai dari paling barat di Kutai Barat, Balikpapan, Muara Badak, Samarinda dan Bontang. Diskusi yang a lot dan berbeda pendapat waktu itu merupakan dinamika yang terjadi di Samarinda Backpacker untuk menentukan arah dan tujuan kedepan Samarinda Backpacker.
@@@
Berpose didalam Gua Pampang
Pagi yang diselimuti oleh rintik hujan membuat kami terjaga, mentari pun enggan menyapa kami dan bersembunyi dibalik pohon jati, setelah membuat sarapan dan membersihkan diri kami segera berkumpul dan melakukan petualangan yang sesungguhnya yaitu menyusuri gua-gua yang belum banyak orang mengetahui keberadaannya, dikawasan ini yang terkenal hanyalah air terjunnya saja, hanya beberapa kelompok saja yang mengetahui keberadaan gua ini.
Perjalanan yang memakan waktu satu jam ini mengantarkan kami kedepan pintu masuk gua, meskipun kami sering nyasar dan beberapa anggota tim banyak yang berjatuhan dikarenakan medan yang sulit dan licin yang menyulitkan kami untuk berjalan. Pintu gua yang sangat kecil yang hanya dapat dilalui oleh satu orang dan mengharuskan kami untuk berjalan merangkak, tak berapa jauh didepan di tengah perut bumi ini kami bisa berdiri dan melihat keindahan ukiran stalagmite dan stalagtite serta banyak memiliki lorong-lorong gelap. Kami pun beristirahat sejenak sambil mendokumentasikan perjalanan kami menguak keindahan perut bumi, setelah diras cukup kami melanjutkan perjalanan menuju pintu keluar gua ini, disepanjang jalan aku melihat dinding gua yang terukir nampak jelas ditangan perupa dan sang pencipta bak sebuah karya maha agung masterpiece yang terbentuk secara alami.
Tak mau mengambil resiko terlalu lama didalam gua yang lembab dan penuh dengan kotoran binatang kelelawar yang membuat perut mual, kami memutuskan untuk melanjutkan menjelajahi isi perut bumi di gua ini jauh lebih dalam. Hanya lampu senter saja yang mengantarkan kami ke semburat cahaya yang masuk dari celah-celah batu, tak lama berjalan akhirnya kami sampai di mulut keluar gua dan bisa menikmati udara segar kembali.
Aku melirik Jam dipergelangan tanganku menunjukkan pukul Sembilan, kami pun melanjutkan perjalanan kembali menuju basecamp dan melanjutkan untuk menjelajah isi perut bumi yang lainnya di daerah hilir sungai, dikarenakan salah satu anggota tim dari Balikpapan yang bernama latifah terjatuh untuk yang kedua kalinya, dia memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan dan kembali basecamp dan aku menemaninya untuk beristirahat di basecamp.
Katak Hijau yang ada di lokasi gua Pampang
Perjalanan kali ini memberikan sensasi yang berbeda dan membuka pemikiranku bahwa di Kota Samarinda ternyata memiliki gua yang bisa dijadikan salah satu destinasi wisata minat khusus di Kota Samarinda apabila dikelola dengan baik, selain desa wisata pampang yang menampilkan kebudayaan suku dayak kenyah, menguak keindahan isi perut bumi dibalik rimbunan Macaranga gigantea, rintik hujan pun kembali mengantarkan kami untuk beraktifitas kembali.

Pampang, 14 April 2013
M.Saipul
*Penulis cerpen “Cahaya dari Tepian Mahakam” Antologi Kaltim dalam Cerpen Indonesia







Sunday, October 28, 2012

FUN TRIP PULAU SEGAJAH-BERAS BASAH-SANGKIMA PIKNIK ALAM KOTA BONTANG Tanggal 26-28 Oktober 2012



Bontang, 28 Oktober 2012 Komunitas pecinta travelling Piknik Alam Bontang bekerjasama dengan Forum Peduli Terumbu Karang dan Dinas Pariwisata Kota Bontang telah mengadakan Fun Trip Pulau Segajah-Beras Basah-Sangkima sabtu (27/10) lalu, acara yang digagas oleh Piknik Alam dan diikuti oleh beberapa  komunitas dan individu, mulai dari Backpacker, Blogger, Traveler, Komunitas Parkour, Duta Wisata, Kelompok Sadar Wisata dan Pokmaswas (Kelompok Masyarakat Pengawas) GELADI (Gelumbung Laut Abadi), acara yang bertujuan untuk mempromosikan potensi bahari yang dimiliki oleh Kota Bontang ini mendapat respon positif dari Dinas Pariwisata Kota Bontang, hal ini didasari oleh kepedulian terhadap potensi bahari dan mengingat ¾ dari luas wilayah Kota Bontang adalah Laut, dan ada beberapa lokasi spot yang menarik untuk snorkling dan diving salah satunya adalah Spot GELADI (Gelembung Laut Abadi) dari dasar laut terdapat gelembung-gelembung air.
Acara ini dilaksanakan selama 3 hari 2 malam dengan diikuti oleh 23 orang peserta. Sebelum melakukan aktivitas snorkling dan diving di lokasi spot Pulau Segajah dan Pulau Beras Basah, Forum Peduli Terumbu Karang Kota Bontang, memberikan beberapa presentasi mengenai program dan himbauan mengenai pelestarian terumbu karang yang telah dilakukan dan hal-hal apa saja yang tidak boleh dilakukan ketika melakukan snorkling dan berfoto di dalam air (underwater).
Selain memberikan materi, Peserta pun diajak untuk melakukan adopsi mangrove dengan men-donasikan dana sebesar Rp.5.000/bibit mangrove serta nama dari donatur akan di gantung di Pohon Mangrove tersebut dan mendapat jaminan apabila bibit tersebut mati akan diganti dengan bibit baru yang lain. Peserta sangat antusias untuk men-donasikan dan mengikuti program adopsi mangrove dan terkumpul sekitar 100 bibit yang akan di adopsi oleh peserta.
Setelah penyampaian materi oleh FPTK para peserta pun nonton bareng film The Mirror Never Lies yang menceritakan kehidupan anak suku Bajao di Wakatobi serta keindahan bawah lautnya.
Sabtu pagi, para peserta pun bersiap untuk melakukan Snorkling di Pulau Segajah, sebelum melakukan snorkling, para peserta pun diajak untuk pemanasan dan oleh pemandu dari Pokmaswas GELADI, dan setelah dirasa cukup para peserta pun mulai bergerak menuju spot GELADI (Gelembung Laut Abadi) dan spot-spot yang menarik yang menyuguhkan keindahan bawah laut kota Bontang, setelah puas menyelami keindahan fenomena alam yang terjadi di Spot Geladi perjalanan pun dilanjutkan menuju Pulau Beras Basah yang menjadi ikon wisata di kota Bontang, berbeda dengan Pulau Segajah yang hanya beberapa orang saja yang mengetahui keindahan bawah lautnya. Di Pulau Beras Basah terdapat beberapa cottage dan sarana hiburan seperti Banana Boat di akhir pekan. Peserta diajak menuju lokasi spot transplantasi terumbu karang yang berada di Pulau Beras Basah.
Keesokan harinya peserta Fun Trip diajak menuju Jungle Track Sangkima Taman Nasional Kutai yang berjarak kurang lebih 45 menit dari kota Bontang. Potensi obyek daerah tujuan wisata yang terdapat di Sangkima Taman Nasional Kutai ini adalah Pohon Ulin Raksasa yang berusia ribuan tahun dan berdiameter 2,47 m, jembatan gantung, jembatan slink, dan Rumah Pohon. Para peserta pun sangat antusias mengikuti Fun Trip ini. (ipoel)

Thursday, September 27, 2012

PIKNIK ALAM FUN TRIP WISATA SEGAJAH - SAND ISLAND – SANGKIMA TOUR KOTA BONTANG


PIKNIK ALAM FUN TRIP WISATA SEGAJAH ISLAND- SAND ISLAND – SANGKIMA TOUR KOTA BONTANG
Spot Geladi - Segajah Island - photo by  Popmaswas Geladi
 IDR 485.000,-/orang Start From Samarinda (Tempat Terbatas 20 orang)
Transfer Via Rekening
Bank Mandiri KCP MMU Sendawar
No. Rek : 148-00-1099065-6
An. M. Saipul

Batas Terakhir Pendaftaran Peserta Tanggal 22 Oktober 2012 *Apabila quota mencukupi Pendaftaran otomatis ditutup.
Tanggal 26-28 Oktober 2012
Berminat silahkan hubungi
Ipoel Taripang :
HP : 0852 46 193 293 / 0811 58 25 293
PIN BB : 29edf33d

Paket termasuk

  1. 1.        Transportasi Darat (PP)
  2. 2.        Kapal (PP)
  3. 3.        Konsumsi selama 3 H 2 M (5 kali makan)
  4. 4.        Tiket Masuk Taman Nasional Kutai
  5. 5.        Alat Snorkling
  6. 6.        Penginapan (Fan + Breakfast)

Itinerary
Waktu
Uraian
Tempat
Keterangan
Day 1 (26 Oktober 2012)
11.00 – Selesai
Perjalanan dari Samarinda - Bontang
Samarinda
Penjemputan dilakukan oleh Guide
15.00 -  16.00
Check In Home Stay
Home Stay
Home Stay (Twin Share)
16.00 – 18.00
City Tour
-          Cafe Singapore
-          Bontang Kuala
Guide
18.00 – 19.00
Sunset in Bontang Kuala
Bontang Kuala (Kampung Pesisir Laut

19.00 – 20.00
Ishoma
Home Stay

20.00 -  21.00
Dinner


21.00 – 06.00
Istirahat
Home Stay
Bontang Kuala
Day 2 (27 Oktober 2012)
06.00 – 08.00
Bersih Diri + Breakfast


08.00 – 08.45
Perjalanan ke Pulau Segajah
Pulau Segajah
Dermaga Bontang Kuala by Boat
08.45 – 11.00
Eksplore Pulau Segajah (Snorkling)
Spot Geladi, Tebok Batang Pulau Segajah, dll

11.00 – 12.00
Lunch

Pondok Pulau Segajah
12.00 – 12.45
Perjalanan ke Pulau Beras Basah

By Boat
12.45 – 16.00
Eksplore Pulau Beras Basah (Snorkling)
Spot Transplantasi Terumbu Karang

16.00 – 16.45
Back To Home Stay
Home Stay

16.45 – 17.00
Bersih Diri


17.00 – 20.00
Penanaman Adopsi Mangrove
Tentative

20.00 – 21.00
Dinner


21.00 – 06.00
Istirahat


Day 3 (28 Oktober 2012)
06.00 – 08.00
Bersih Diri + Breakfast
Home Stay

08.00 – 08.45
Perjalanan menuju Sangkima

Mobil
08.45 – 11.00
Eksplore Sangkima
Taman Nasional Kutai

11.00 – 12.00
Lunch


12.00 – 17.00
Perjalanan ke Samarinda



Kota Bontang dikenal dengan kota industri dan jasa, dua sektor tersebut telah memberikan nilai pendapatan yang utama bagi daerah ini . Di Kota Bontang, dalam kawasan tiga perusahaan raksasa itu, berbagai fasilitas moderen lengkap tersedia, mulai dari fasilitas perumahan bagi karyawan, tempat olahraga, rekreasi, taman bermain, rumah sakit hingga hotel berbintang yang tentunya menambah kas daerah dari sektor jasa, sektor jasa dan industri pengolahan adalah dua lapangan usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja.
Dari tiga perusahaan besar itulah tulang punggung perkembangan perekonomian kota ini. Keberadaan perusahaan raksasa itu punya andil dalam meningkatkan kegiatan perdagangan dengan munculnya kebutuhan baru akan komoditas keperluan hidup sehari-hari.
Di sektor pariwisata, Wilayah pesisir dengan pantai yang bersih, landai, berpasir putih bisa menjadi obyek wisata yang potensial. Bontang Kuala misalnya, selain menarik wisatawan karena perkampungan nelayan di atas laut, juga tengah dikembangkan sebagai obyek wisata. Kota ini memiliki potensi menjadi kota pariwisata dengan beberapa tempat andalan, Pulau Beras Basah, Pulau Segajah serta Taman Nasional Kutai yang berdampingan dengan wilayah Kutai Timur. Potensi budidaya perikanan laut dengan komoditas unggulan berupa udang, kepiting, ikan kerapu, udang lobster, kakap merah, teripang, rumput laut dan tiram banyak diminta oleh pasar luar negeri. (http://wikipedia.org.id)

Pulau Segajah
Photo by Popmaswas Geladi Bontang
Pulau Segajah adalah salah satu gugusan pulau Gusung yang terletak di pesisir Kota Bontang, Pulau ini akan terlihat apabila air laut sedang surut dan tidak tampak apabila air sedang pasang, keindahan dari pulau ini adalah terdapat beberapa spot untuk snorkling dan diving yang terdapat banyak variasi jenis terumbu karang dan terdapat fenomena alam yaitu adanya gelembung-gelembung air yang keluar dari dasar laut, berenang bersama nemo dan napoleon merupakan sensasi yang tak kalah menariknya.
Photo by M.Saipul
Pada siang harinya apabila air laut sedang surut kita bisa mengelilingi pulau dengan pasir putih seolah-olah kita terdampar disuatu pulau ditengah laut seperti di film cast away Tom Hanks.
Tak banyak orang tahu akan keberadaan Pulau ini, sehingga potensi alam bawah lautx masih terjaga dan masih memberikan warna yang indah ketika kita menyaksikannya.




Pulau Beras Basah
Photo by : Popmaswas Geladi
Pulau Beras Basah adalah salah satu pulau yang dijadikan wisata bahari oleh pemerintah Kota bontang dan berada di pesisir selatan Bontang, tepatnya 45 menit dari dermaga Tanjung Laut Indah, Keindahan pulau ini adalah terdapat spot yang menarik untuk snorkling dan diving serta terdapat lokasi transplantasi terumbu karang. Pulau ini ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal dan luar diakhir pekan, di Pulau ini juga terdapat beberapa fasilitas yang mendukung meskipun masih minim seperti shelter, menara pemantau, serta view yang menarik apabila menyaksikan sunset tenggelam.
Tidak ada Restoran dan warung di pulau ini, sehingga kita diharuskan untuk membawa bekal sendiri apabila ingin menikmati keindahan pulau ini, walaupun fasilitas minim akan tetapi pulau ini memberikan daya tarik tersendiri keindahan bawah lautnya memberikan pesona yang tak kalah indah di destinasi bahari yang lain di Indonesia.

Sangkima, Taman Nasional Kutai
Pohon Ulin Raksasa 2,47 m Photo by. M.Saipul
Sangkima adalah salah satu Daerah Tujuan Obyek Wisata yang berada didalam kawasan Taman Nasional yang terletak di Kabupaten Kutai timur dan bersebelahan dengan Kota Bontang, Potensi Hutan Hujan Tropis menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal dan asing, di Sangkima terdapat fosil hidup berupa pohon Ulin yang berdiameter 2, 47 meter yang berusia ribuan tahun, disini juga terdapat rumah pohon, jembatan sling, serta rute trekking yang menyajikan atraksi alam serta keindahan Hutan Hujan Tropis Dataran Rendah di Kalimantan Timur.
Perjalanan yang memakan waktu sekitar 45 menit ini tidak akan terasa apabila kita telah mencoba tantangan trekking yang dapat meadu nyali kita untuk menyeberangi sungai sangatta yang terkenal dengan Buaya Muara (Crocodilus porosus) dengan menggunakan jembatan slink yang terbuat dari kabel, serta kita bisa melihat tutupan hutan hujan tropis dari atas rumah pohon yang tingginya 4 meter.