Tuesday, April 28, 2015

VCT Mobile #Part 1

Mendengar kisahnya tak sedikit orang yang mencibir dengan lirih merunut ini bukan pilihan mereka, namun himpitan ekonomi lah yang mengharuskannya untuk berjuang menjadi tulang punggung keluarga dan buah hatinya yang sebenarnya tak ingin untuk dilahirkan ke dunia dan tak satupun keluarga mengetahui apa pekerjaan sebenarnya di seberang sana. entah siapa yang harus dipersalahkan, Dia kah yang menunggu dengan olesan bedak tebal ataukah lelaki berkantong tebal. sangat miris mendengar kisahnya, bukan pembelaan bukan pula pembenaran namun ini misi kemanusiaan.

Aku mulai melaju dengan kuda besi menuju suatu komplek yang terakhir kali aku menginjakkan kaki disini pertengahan tahun 2010, lima tahun berselang sepertinya pembangunan disini menunjukkan perkembangannya, sebanding lurus dengan kasus HIV/AIDS yang terjadi.

Rintik hujan yang menghantarkanku ke suatu klub malam tak menyurutkan semangatku untuk memberikan kesadartahuan akan pentingnya arti Kesehatan mengenai Penyakit Menular dan HIV/AIDS, merupakan rutinitas sebagai konselor HIV/AIDS untuk menekan prevalensi penyebaran Virus HIV di Kota Bontang. Tidak mengintimidasi, mendiskriminasi, bahkan menjauhi, namun merangkul dan memberikan kesadartahuan kepada mereka agar dapat merubah perilaku.


Tuesday, August 12, 2014

Deklarasi Jaringan Pendidikan Anak Komunitas Adat (Japka)

Jakarta (12/08/2014).Berawal dari undangan via email dari teman sesama penulis buku Antologi Love Journey#2 Mengeja Seribu Wajah Indonesia yang puluhan tahun telah mengabdi untuk pendidikan Anak di Komunitas Adat di suku Rimba untuk menghadiri acara Seminar Nasional dan Deklarasi Jaringan Pendidikan Anak Komunitas Adat kerjasama dengan Yayasan Cipta Mandiri Mentawai yang mendampingi Pendidikan Anak di suku adat Mentawai, Yayasan Merah Putih yang mendampingi Pendidikan Anak Tauu Tawana di Sulawesi Tengah dan KKI Warsi yang mendampingi Pendidikan Anak suku Rimba di Jambi. Berawal dari inisiasi dan kesatuan visi yang sama untuk mendapatkan akses pendidikan yang layak bagi masyarakat komunitas Adat yang berada di dalam dan sekitar hutan yang semakin terpinggirkan dari zaman modern dan ekspansi perusahaan-perusahaan tambang dan kelapa sawit di wilayah adat mereka.
Acara deklarasi Jaringan Pendidikan Anak Komunitas Adat (Japka) yang bertempat di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki


dimulai dengan penampilan tari tradisional dari Komunitas Adat Tauu Tawana Sulawesi Tengah kemudian Komunitas Adat Orang Rimba dan Komunitas Adat Mentawai, kearifan lokal yang dimiliki oleh masing-masing komunitas adat menggambarkan keberagaman budaya Indonesia.
Setelah penampilan tarian dari komunitas adat acara pun dilanjutkan dengan sambutan oleh Wamendikbud sebagai keynote speaker dan dilanjutkan dengan seminar nasional yang disampaikan oleh perwakilan dari Mendikbud, Akademisi, Media dan Aktivis Sosial.
Orang Rimba adalah suku yang hidupnya tergantung pada hutan. Masyarakat kebanyakan mengenal mereka dengan sebutan Orang Kubu atau Suku Kubu. Secara umum biasanya orang Rimba menetap di hutan dataran rendah Sumatera, terutama di Jambu dan Sumatera Selatan. Orang Rimba merasa tidak senang bahkan marah jika dipanggil kubu. Karena Kubu mengalami perubahan makna dari yang semula bermakna “kelompok” atau juga “pertahanan” menjadi memiliki arti yang lebih buruk, yaitu jorok, kotor, liar dan makna lain yang bermakna negative. (Warsi, 2013).

Acara kemudian ditutup dengan motivasi yang sangat menginspirasi yang dibawakan oleh Dik Doank yang meninggalkan dunia entertainment serta mengawali dan membangun Kandang Joerang Doank untuk komunitas anak dengan memberikan edukasi kepada anak-anak melalui seni lukis dan  seni musik yang memanfaatkan alam sebagai rumah belajar mereka.

Monday, August 11, 2014

Catatan Perjalanan Menguak Fenomena Alam Labuhan Cermin dan Wisata Air Panas Air Asin di Biduk-Biduk

Pintu Masuk Labuhan Cermin
Udara malam ini menusuk sendi-sendi tulang, aku melihat jam dipergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul 21.30 malam, telepon selulerku pun berdering, suara diseberang sana megatakan bahwa sebentar lagi akan sampai menuju meeting point untuk menjejakkan kaki ke Labuhan Cermin. Rasa penasaran dan keingintahuanku yang sangat besar akan keindahan Danau Dua Rasa Labuhan Cermin membuatku rela menunggu dari sore hari di pertigaan jalan menuju Kutai Timur. Akhirnya setelah chating dengan teman-teman Free Diving Balikpapan, aku pun bisa mewujudkan rasa penasaran yang sangat dalam ini akan keindahan Labuhan Cermin.
Wisata Air Panas Air Asin
Aku kembali memastikan tak ada satupun barang yang tertinggal dalam ransel, alat snorkeling pun sudah siap untuk menjajal kedalaman Danau Dua Rasa Labuhan Cermin. Dengan menyewa mobil seharga Rp. 300.000/hari selama 5 hari di Biduk-biduk kamipun melaju menembus kabut malam dan hutan tropis Kalimantan. Setelah menempuh perjalanan selama 7 jam melewati perkebunan sawit dan hutan tropis dipterocarpa sampailah kami di penyebrangan kapal fery di desa kaubun, kami pun harus menunggu hingga fajar menyingsing dikarenakan jadwal kapal fery tersebut beraktivitas di pagi hari, kami memilih jalur penyebrangan fery melewati sangkulirang karena untuk menyingkat perjalanan selama kurang lebih 6 jam apabila melewati jalur muara wahau.
Kima Raksasa @Pulau Kaniungan Besar
Matahari menelusup dibalik sela-sela rimbunan pohon nipah dipinggiran sungai, setelah beristirahat sejenak, kami pun menyebrang menuju hulu sungai pada pukul 05.30 wita, setengah jam berada diatas kapal penyebrangan  menyusuri hulu sungai yang dikelilingi oleh rimbunan pohon nipah yang terkenal dengan habitat buaya muara, dan harus melanjutkan perjalanan selama 6 jam menuju Biduk-Biduk.
Biduk-biduk merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur yang banyak menyimpan fenomena alam dan keindahan bawah lautnya yang menarik untuk diselami. Setelah menempuh perjalanan selama 18 jam dari Kota Balikpapan sampai lah kami di desa Biduk-Biduk yang dikelilingi oleh pohon-pohon nyiur yang melambai seolah menyapa kami untuk menikmati keindahannya. Setelah menikmati minuman dingin pelepas dahaga di Rumah Mas Eko yang menjadi homestay kami selama berada di Biduk-biduk kami pun melanjutkan perjalanan menuju teluk sulaiman untuk menikmati sunset.
Matahari kembali menyapa dibalik garis equator di bibir pantai depan homestay kami, kami pun segera menyiapkan perlengkapan alat snorkeling untuk menikmati dan menyelami keindahan bawah laut Labuhan Cermin, karena kedatangan kami pada musim liburan, maka kami harus berangkat lebih awal untuk mendapatkan antrian kapal yang akan mengantarkan kami ke Labuhan Cermin. Setelah sarapan kami menuju dermaga Labuhan Kelambu dan segera menuju loket tiket kapal penyebrangan, dermaga kecil yang hari ini riuh akan pengunjung yang akan menuju Labuhan Cermin, entah hanya sekedar piknik, snorkeling atau diving bahkan hanya sekedar berenang saja bersama keluarga.
Dengan harga kapal bermesin diesel seharga Rp.100.000 yang berkapasitas 10 orang kita bisa menikmati keindahan Labuhan Cermin. Karena rombongan kami datang kesiangan maka kami mendapat nomor antrian kapal 22 dan 23, di dermaga Labuhan Kelambu ini hanya tersedia 5 unit kapal yang melayani penyebrangan ke Labuhan Cermin.
Love Journey#2
Setelah menunggu selama 2 jam, untuk membunuh kebosanan aku kembali membuka buku catatan perjalanan Love Journey #2 yang aku tulis bersama teman-teman backpacker yang lainnya, dan akhirnya kami pun menuju Labuhan Cermin, suara deru kapal mengantarkan kami masuk kesebuah teluk yang membentuk layaknua danau raksasa dan berair jernih layaknya sebuah cermin. Rimbunan pohon Premna serratifolia(Mali-Mali), Dacryodes rugosa (Keramu),Diospyros borneensis (Kayu Arang), Ficus ferruginia (Ara), Hopea mengerawan (Merawan), Canarium megalantum (Kenari),  dan Zysygium sp (Jambu) mengelilingi Danau Labuhan Cermin.
Mengutip sebuah ayat yang diposting oleh mas eko di www.biduk-biduk.com yang menjelaskan fenomena alam yang terjadi di Labuhan Cermin.
“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus.” (Q.S. Al-Furqan: 53)
“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.” (Q.S. Ar-Rahman: 19-20) 
Levitasi at Pulau Kaniungan
Takjub akan fenomena  alam yang terjadi di Labuhan Cermin dua air yang bertemu tanpa melampaui batas satu sama lain, yang diatas air tawar dan yang dibawah air asin serta ikan yang berada di keduanya pun tidak bercampur. Kami pun langsung menceburkan diri menikmati keindahan bawah laut yang terjadi di Labuhan Cermin, tak peduli meski airnya terasa dingin menembus tulang.  Tak terasa dua jam berada dibawah air kami pun naik dan menuju destinasi sisi lain dari Labuhan Cermin, naik menanjak melewati bukit dan pepohonan Ara sebuah danau kecil Nampak dari kejauhan kali ini aku hanya menikmati rimbunan pepohonan dan suara burung yang saling bersahut-sahutan dibalik canopy pohon, tempat ini seolah belum terjamah oleh orang-orang karena letaknya yang sedikit menguras tenaga, tapi suasana alam sangat terasa disini.
Puas menikmati Labuhan Cermin kami pun memutuskan untuk kembali ke home stay untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan besok harinya menuju ke Pulau Kaniungan dan Teluk Sumbang. Rasa penasaran yang menimbulkan banyak pertanyaan akan fenomena alam yang terjadi di Labuhan Cermin menjadi rahasia dan campur tangan Tuhan sang Pencipta.
Sore harinya kami kembali menikmati desiran ombak dan hamparan pasir putih serta menikmati hidangan laut di teluk Sulaiman, harga satu porsi makanan disini terbilang cukup mahal karena dibandrol antara Rp.25.000 – Rp. 30.000 sekali makan.
Pulau Kaniungan
Tak terasa kami telah menghabiskan 3 hari di Biduk-biduk dan hari ini kami akan menyelami keindahan bawah laut sisi lain dari Pulau Biduk-biduk yaitu Pulau Kaniungan Besar, dengan menyewa kapal seharga Rp. 900.000 dengan kapasitas 20 orang kami melaju membelah ombak menuju Pulau Kaniungan. Pulau kaniungan dapat ditempuh sekitar 40 menit dari dermaga Teluk Sulaiman Pulau yang terletak di koordinat 1180 50’ 30” BT dan 10 7’ 1” LU menyuguhkan keindahan bawah laut yang menarik, disini terdapat Spesies Kima Raksasa yang dilindungi, Hard Coral, Soft Coral dan Karang Meja serta kita dapat menemukan dan menyapa EEL Muray dibalik terumbu karang, namun kita harus waspada karena disini terdapat banyak spesies ubur-ubur yang masih memiliki sengat, untuk itu disarankan untuk memakai pakaian renang yang tebal atau memakai sarung tangan untuk menghindari sengatan ubur-ubur.
Puas menikmati keindahan bawah laut di pulau kaniungan kami pun mengabadikan landscape Pulau yang dikelilingi nyiur melambai, setelah menikmati makan siang dengan hidangan laut ikan bakar, kami segera menuju Teluk Sumbang untuk menikmati keindahan air terjun Bidadari, setelah kapal ditambatkan kami pun segera bergegas menuju air terjun dengan melewati jalan setapak yang dipenuhi dengan batu cadas.
Labuhan Cermin
Akhirnya setelah 4 hari berada di desa Biduk-Biduk kami pun kembali menuju Balikpapan, kami memutuskan untuk melewati rute jalur yang berbeda dan berencana untuk menikmati Wisata Air Panas di daerah Kampung Biatan Bapinang Kecamatan Biatan Lempake, setelah menempuh perjalanan selama 4 jam kami pun sampai di Permandian Air Panas tersebut, dan semakin takjub serta heran dikarenakan sumber air panas itu terasa Asin, dan lebih mengherankan lagi tempat tersebut jauh dari Laut, sekali lagi Rahasia dan Campur Tangan Tuhan jelas kembali menunjukkan kebesarannya.
Teluk Sulaiman
Perjalanan yang banyak menimbulkan kekaguman akan kebesaran Pencipta dan Rasa penasaran yang tidak masuk nalar manusia selalu menjadi rahasia yang tidak satupun kita dapat menembusnya.
Kapal Motor Teluk Sulaiman-Pulau Kaniungan-Teluk Sumbang

Note :
1.       Transportasi
a.       Sewa Mobil (Balikpapan) : Rp. 300.000,-/Hari
Kapal Motor Labuhan Kelambu-Labuhan Cermin
b.      Penyebrangan Fery : Rp. 200.000,-/Mobil
c.       Kapal Motor dari Dermaga Labuhan Kelambu-Labuhan Cermin : Rp. 100.000,-/kapal (Kap 10 orang)
d.      Kapal Motor dari Teluk Sulaiman-Pulau Kaniungan-Teluk Sumbang (Air Terjun) : Rp. 450.000,-/kapal (Kap 10 orang)
2.       Penginapan
a.       Home Stay : Rp. 175.000,-/malam
b.      Penginapan : Rp. 175.000,- s.d Rp.250.000,-/malam
3.       Makan
a.       Bakso : Rp. 15.000,-/porsi
b.      Lalapan : Rp. 25.000,- s.d Rp. 30.000,-/porsi

Pulau Kaniungan
Air Panas Air Asin











Air Terjun Teluk Sumbang

Pintu Masuk Air Panas 


Air Panas Air Asin
Terumbu Karang @Pulau Kaniungan Besar
Terumbu Karang @Pulau Kaniungan Besar



Kima Raksasa @Pulau Kaniungan Besar





Terumbu Karang @Pulau Kaniungan Besar

Thursday, November 14, 2013

TINGANG Oleh : M. Saipul



Embun  pagi  membasahi  dedaunan,  hujan  semalam  meninggalkan  jejak  di
jalan  setapak,  tak  biasanya  Aku  bangun  dengan  semangat  di  pagi  ini,   Aku
bergegas  mengambil  handuk  dan  menceburkan  diri  disungai  mahakam  yang
arusnya  sangat  tenang,  setenang  jiwa  yang  merindukan  muara.  Suara  perahu
ketinting  saling  bersahut-sahutan  hilir  mudik,  ada  yang  membawa  hasil  ladang
dan  hasil  buruannya.  Aku    bersama  anak-anak  yang  lain  ber gegas  naik  ke ru mah
untuk  memakai  seragam  sekolah,  hari  ini  adalah  har i  yang  kami  tunggu- tunggu,
karena  informasi  dari  Ibu  Bulan  guru  di  sekolah  kami  bahwa  har i  ini  akan  ada
guru  baru  dari  kota  yang  akan  mengajar  di  sekolah  kami.  Aku  sangat  senang
mendengar  berita dar i Ibu Bulan, yang  ada dip ikiranku waktu  itu adalah kami  bisa
dapat  lebih  banyak  pengetahuan  dar i  guru  baru   yang  dar i  ko ta  itu,  kami  bisa
bertanya  bagaimana  dengan  kehidupan  di  kota  sana,  apakah  sama  dengan
kehidupan  kami  yang  ser ba k ekurangan ini,  bahkan  kami  sering  ke  sekolah  tanpa
menggunakan  sepatu  dan  seragam,  buku kami  pu n  sudah  pada usang  ditelan  usia
d i  perpustakaan yang hampir runtuh  karena dimak an rayap.
Setelah  sarapan  seadanya,  Aku  pun  lalu  menuju  seko lah,  jarak  ru mahku
dengan sekolah adalah satu kilometer, sehingga aku harus berjalan  kaki  lebih  awal
dari teman-teman  yang lain agar  aku tidak terlamb at  masuk ke sekolah.
@@@
“Sekolah  kameq  au  rusak,  jan  teq  perhatian  dahin  bantuan  man
pemerintah tapi  kameq  tetap semangat  bekalai,  ai  kameq lai  meraih mimpi  dahin
cita-cita kameq”.
(Sekolah kami  sudah rusak, tidak ada perhatian dan bantuan dari pemerintah tapi
kami tetap semangat belajar  untuk meraih mimpi dan cita-cita)


Gedung  putih  tua  yang  berd iri  sejak  tahun  1981  dan  bercat  krem  yang
hampir  mau  ru bu h,  dan  banyak  dimak an  rayap  in i  adalah  ruang  kelas  6A,  tempat
aku  menimba  ilmu  yang  serba  kekurangan  selama  enam  tahu n  berjalan,   atapnya
banyak  yang  bolong  sehingga  tak  ayal  ketika  hu jan  turun  kami  pun  d isibukkan
untuk  menampung  air  hujan  menggunakan  ember  yang  telah  kami  siapkan  dan
kami  letakkan  disudut  ruangan.  Mungkin  karena  itulah  banyak  guru-guru  yang
d ik irim  dar i  kota  tidak  betah  dan  mengundurkan  dir i  u ntuk  mengajar  diseko lah
kami.  Ini  kali  k esekian  guru  dari  kota  dikir im  untuk  mengajar  diseko lah  kami,
pagi  ini  suasana  di  sekolah  masih  sepi,   hanya  beberapa  orang  murid  saja  yang
terlihat  bermain  bo la  dilapang an  sekolah,  aku  menaruh  tas  ke  dalam  kelas  dan
duduk  diatas  pagar  pembatas  r uang  kelas,  yah  karena  sekolah  kami  terbuat  dari
kayu  dan  berbentuk  rumah  panggung,  maka  diberi  pagar  pembatas,  sambil
sesekali  memperhatikan  jalan  setapak  yang  menuju  sekolah kami,  melihat apakah
guru baru itu akan datang atau hanya kabar burung saja yang kami dengar.
Satu  per  satu  murid  dan  para  gur u  berdatangan  dan  tak  lama  berselang
lo nceng  sekolah  ber bu nyi,   dar i  tad i  aku  memperhatikan  tak  ada  guru  baru  yang
d ikatakan  oleh  Ibu  Bu lan  kemaren  datang,  aku  mulai  kecewa,  setumpuk
pertanyaan  yang  ada  d ibenakku  tentang  kota,  yang  telah  aku  persiapkan  untuk
guru baru kelak  hanya menjad i angan-angan saja tanpa tahu  jawabannya.
Aku  pun  masuk  kelas  dengan  setengah  tertunduk  dan  tak  bersemangat,
anak-anak  pun  berlarian  masuk,  Pak  Hingan  mulai  menghamp iri  kelas  kami
sambil  membawa  tas  bututnya  yang  sudah  lusu h  berwarna  cok lat  tua,  selaras
dengan pakaiannya  yang bermo tif kotak-kotak.
“Selamat Pagi Anak-anak”
suaranya  ketika masuk ke dalam kelas  kami.
“Selamat Pagi,  Pak Guru”
Sahut  kami
Aku  mu lai  tidak  konsentrasi  menerima  pelajaran  Fisika  dari  Pak  Hingan,
yang  ada  d ipikiranku  hanyalah  segudang  pertanyaan  tentang  kota  yang  akan  aku
tanyakan  kelak  kepada  guru  baru  yang  katanya  akan  mu lai  meng ajar   hari  ini  ke
seko lah kami.


Ditengah  aku  membayangkan  kehidupan  tentang  kota  yang  sangat  jauh
ber beda  dengan  kampung  kami,   gedung-gedu ng   pencakar  langit,  mo bil-mo bil
mewah, serta rumah- rumah  yang terbuat dari beton. Aku  dikagetkan  dengan suara
Ibu Bulan.
“Anak-anak,  minta  tolong  perhatiannya  sebentar,   Ibu  akan
memperkenalkan  guru  baru yang  akan mengajar  kalian di sekolah  kita, namanya
bapak  Raihan  dari  Samarinda,  Bapak  Raihan  adalah  guru  suka relawan  dari
program  Indonesia   Mengajar,  dan  akan  mengajar  kalian  selama  1  tahun,  jadi
dimanfaatkan sebaik mungkin ilmu yang diberikan oleh Bapak Raihan”
terang ibu
Bulan panjang lebar.
“Selamat  Pagi  Anak-anak,  Bapak  minta  maaf  karena  datang  terlambat,
karena  kapal  yang  bapak tumpangi  sempat  karam di  jeram  panjang,  untung  ada
kapal  yang  mudik  juga  dibelakang,   jadi  bapak  numpang  dan  bisa  sampai  disini
bertemu  dengan  kalian.”
Jelasnya.  Dengan  menggunakan  kemeja  ber garis-garis
dan  celana  katun  berwarna  hitam,  dengan  tatanan  r ambut  yang  klimis  ala
dandanan  pemuda  dikota  dan  berkacamata,  serta senyuman  yang  membuat  orang
yang  berada  didekatnya senang.
“Selamat Pagi Pak.”
Teriak kami bersemangat
“Bapak  adalah  guru  sukarelawan  dari  progra m  Indonesia  Mengaja r
selama  1  tahun,   dan  bapak  akan  mengajar  mata  pelajaran  matematika  dan
bahasa inggris selama di sekolah ini”
terangnya.
“Baik  anak-anak,  perkenalan  dengan  pak  Raihan  cukup  sekian,  silahkan
dilanjutkan pelajaran fisikanya”
pamit Ibu Bulan  dan Pak Raihan.
Kami  pun  melanjutkan  pelajaran  fisika  dengan  ru mus-ru mus  yang
memusingkan  kepalaku,  segudang  pertanyaan  yang  bergelayut  di  pik iranku  tidak
tahan lagi untuk aku bendung.
@@@


Malam  yang  ding in,  hujan  tadi  sore  masih  menyisakan  butiran- butiran  air
d i  daun  jati,  go ng  berdera  sebanyak  tiga  kali  beturut-turut  tandanya  semua
masyarakat di kampung kami  disuruh untuk berkumpul d i balai  pertemuan u mum,
selain  digunakan  sebagai  alat  musik,  Gong  mmerupakan  benda  yang  sakral  bagi
kami,  irama  tabuhan  gong  akan  ber beda  apabila  disuruh  berkumpu l  untuk
musyawar ah, Gong Kematian, I badah, dan upacara adat lainn ya.
Aku mempercepat langkah  mengikuti  Ayahku  menu ju ke Balai  Pertemuan
Umum  untuk  mengikuti  so sialisasi  per usahaan  kelapa  sawit  yang  berencana akan
bero perasi  di  kampung  kami,  aku  melihat  kedalam  ruangan  balai  yang  berbentuk
panjang  seperti  Amin  Ayaq-Rumah  Adat  kami,  mataku  tertuju  kepada  tig a  orang
yang  berdandan  rapi  mengenakan kemeja  kotak-kotak,  yang satu  mengenakan  jas
dan  yang  satunya  lagi  mengenakan pakaian  lapangan,  mereka  mulai  menjelaskan
panjang  lebar  kepada  kami  mengenai  keu ntungan  yang  akan  didapatkan  o leh
masyarakat  di  kampungku  apabila  perusahaan  kelapa  sawit  tersebut  bero perasi,
mereka  pu n  menjelaskan  mengenai  Kebun  Plasma  yang  akan  diber ikan  kepada
masyarakat  dan  berbag i  keuntungan  20%  untuk  masyarakat  dan  80%  untuk
perusahaan apabila kebun plasma ber jalan.
“Bapak-bapak  dan  Ibu-ibu  tidak  usah  bekerja  diladang  lagi,  tinggal
duduk-duduk  santai  saja  dirumah  menikmati  uang  setiap  bulannya  dari
perusahaan”
jelas  bapak yang memakai dasi yang berdandan rap i dan klimis.
“Kameq  memang  kelunan  kampung,  tapi  kameq  jan  uyau  meq  pikiran
peloq  kameq  jan  ngenap  beleq  tanaq  warisan  uku  boq  kameq  moh  perkebunan
sawit,  kameq tetap sang menjaga tanaq  kameq man anak meson kameq bayaq.”
(kami  memang  orang  kampung,  tapi  kami  tidak  bodoh,  kolot  seperti  pikiran
kalian,  kami  tidak  akan  menjual  tanah  warisan  nenek  moyang  kami  untuk
perkebunan  kelapa  sawit,  kami  tetap  akan   menja ga  tanah  kami  demi  anak  cucu
kami kelak.)
Suara bas Pak Hibau  memenuhi ruang an balai.
“peloq  atang  ha  iniq  sang  nai  merusak  dahing  sang  lemruk  tanaq  kameq  dahin
ma’ai janji-janji  pamoh moh kameq tua”


(Kalian datang  kemari hanya untuk merusak dan menghancurkan  tanah  kami dan
hanya memberikan janji-janji palsu saja kepada kami).
timpal pak Kuleh
Sosialisasi  itu  menjadi  debat  kusir  semata,  dan  jelas  masyarak at  di
kampungku  dengan  tegas  menolak  investor-investo r  yang  masuk  untuk  merebut
hak- hak  adat  kami,  kami  sekian  tahun  berada  disini,  tempat  hidup  dan  mati  kami
kelak.
@@@
Pag i  yang  cerah,  mentari  menyusup  dibalik  tegakan  pohon  k aret,  aku
d ibangunkan  oleh  ayah  untuk  bersiap-siap  perg i  keladang  bersama  pak  Raihan,
yah  setelah  berd iskusi  bersama  pak  Raihan  kemaren  siang  di  Sekolah,  dia  akan
ikut  aku  melihat  ladang  karet  ayahku,  d ia  sangat  tertarik  dengan  tantangan  baru
yang  belum  pernah  sebelumnya  dia  lakukan, seperti  meno res karet,  menjala  ikan,
mengemud ikan perahu k etinting,  memanja pohon  kelapa, dan  aktivitas sehari- hari
kami sebagai orang  dayak.
Aku  mulai  bergegas  d an  memasukkan  bekal  untuk  sarapan  dan  makan
siang  kami  diladang  ke  dalam
Lanjong
setelah  semua  sudah  siap,   kami  pun
meluncur  menu ju  ladang,  pak  Raihan  bersemangat  sekali  u ntuk  membantu  kami
melakukan  aktivitas  di  ladang,  bahkan  berkali-kali  sering   jatuh  ke  sungai  ketika
jala  mu lai  dikembangkan  dan  tersangkut  d itangannya,  d ia  hanya  tersenyum  dan
tertawa, kemudian melanjutkannya  lagi.
Terik  mentari  mulai  mengenakan  mahkotanya,   kami  pu n  memutuskan
untuk  beristirahat,  disela-sela  kami  ber istirahat  pak  Raihan  pu n  mulai  bercerita,
semenjak  dia  lahir  baru  merasakan  pengalaman  yang   sangat  menyenangkan  di
kampung ini.
“Hidup  di  kota  sangat  jauh  berbeda  dengan  di  kampung,   saya
mendapatkan banyak pengalaman baru yang berharga di kampung ini,  yang tidak
saya dapatkan di Kota, bagaimana masyarakatnya menjaga kelestarian hutan dan


kebudayaan yang ada di  kampung  ini, saya sangat bangga sekali  berada  dan bisa
diterima di kampung  ini”
Terang Pak Raihan.
Tapi  di  kota  kan  banyak  gedung-gedung  mewah  pak,  banyak  mall  dan
banyak tempat untuk  bermain  disana?”
Timpalku
Yah,  tapi  itu  menjadikan  masyarakat  di  kota  semakin  konsumtif  akan
kehidupan  modernisasi,  yang  tidak  bisa  meng hargai  dan  mengakui  adanya
masyarakat  adat  yang  berada  di  sekitar  hutan   mereka   hanya  berfikir  untuk
berinvestasi  saja  tanpa  ha rus  memikirkan  kepentingan  masyarakat  adat  yang
berada di sekitar hutan.”
Penjelasan  pak  Raihan  memberikan  suatu  mo tivasi  dan  cita-cita  serta
keinginan  yang  kuat  bag iku  untuk  bisa  menimba  ilmu  di  kota  untuk  membangun
kampungku  yang  berada  di  pedalaman  kalimantan  ini,  yang  hanya  bisa  ditembu s
melalui  jalur  su ngai dan melewati  beberapa riam-riam yang mematikan,  tapi  kami
hidup  harmo nis  disini  selama  berpuluh-puluh  tahun.  Dengan  adanya  masuk
investor  kelapa  sawit  ,  akan  membuat  kampungku  menjadi  semakin  tertindas  dan
menjad i buruh di tanah kelahir an sendiri.
@@@
Tak  terasa  setahun  berlalu  begitu  cepat,   pak  Raihan  sebentar  lagi  akan
kembali  ke  kota  untuk  melanjutkan  pekerjaannya  menjadi  tenaga  sukarelawan
tutor  Paket  di  PKBM  (Pusat  Kelo mpok  Belajar  Masyarakat)  di  pesisir  Ko ta
Bontang  yang  harus  membelah  laut  menggunakan  ketinting  menuju  pulau-pulau
pesisir  yang sebag ian  besar penduduknya butu huru f dan angksara, su nggu h mulai
pekerjaan pak Raihan, dia tidak  memikirkan dir inya  send iri  demi mengabdi  untuk
ber bagi ilmu di daerah tertinggal.
Aku  pun  k ini  melanjutkan  sekolah  menengah  pertama  d i  pondok
pesanteran  Hid ayatullah  d i  samarinda,  dan  ini  kali  pertamaku  naik  pesawat
terbang  p erintis  yang  berada  jauh  di  perbatasan.  Pagi-pagi  sekali  aku  dan  pak
Raihan  serta  Ayah  mudik  ke  hulu  sungai  mahakam  menuju  bandara  datah  dawai


yang  dulu  d igu nakan  o leh  para  tentara  penjaga  perbatasan,  setelah  melewati  dan
melawan  arus  sungai  mahakam  selama  satu  setengah  jam,  kami  pun  tiba  di
bandara,  bandara  yang  sangat  mempr ihatinkan  dar i  segi  sarana  dan  prasarana,
serta  bandara  yang  satu-satunya  di  Indonesia yang  ber sebelahan  langsung dengan
lokasi Tempat Pemakaman Umum.
Suara  sirine  mulai  terdengar ,  deru  pesawat  terbang  perintis  pun  tiba,  Pak
Raihan dan aku berpamitan kepada ayah dan  ibu, kata ayah d i samarinda  nanti ada
tanteku yang  akan  mengrus keperluan sekolahku kelak.  Setelah  menumpahkan  air
mata  sejenak,  aku  ber lalu  menuju  pesawat  dan  mengambil  posisi  tempat  duduk
tepat  disamping  jendela,  aku   melihat  ayah  dan  ibu  melambaikan  tangannya
kepadaku seakan memberikan isyarat dan  menitipkan  beribu pesan  yang harus aku
jalankan kelak  dan aku  berjanji  akan  kembali  untuk  membangun kampungku agar
tidak  menjad i  tertinggal,  kembali  deru  pesawat  mu lai  kian  lantang,  baling-baling
pun  mu lai  berputar,  lambat  laun  naik  ke  langit,  tetesan  air  mata  di  pipiku  masih
membekas  dan tak dapat aku sembunyik an.
“Sudah  jangan  terlalu  bersedih  tinggang,  kamu  harus janji  ketika  pulang
kampung  kelak akan  membangun  kampung menja di lebih  baik  lagi  kedepan, ayah
dan  ibumu  pasti  akan  bangga  melihat  anaknya  sekolah  dan  sukses.”
Petuah  Pak
Raihan  yang duduk  disampingku.
Aku  melihat dikiri  kanan  sungai  mahakam telah  banyak  kekayaan  su mber
daya  alam  kami  yang  telah  dirampas  oleh  para  investor-investo r  asing,  dan  kami
hanya menjadi penonton  saja,  mulai dar i tambang  batu bara  yang  bekas galiannya
menjad i  danau  yang  berwarna  hijau  dan  hitam,  perluasan  kelapa  sawit,
pembalakan  liar  dan  perusahaan-perusahaan  kayu  yang  tidak  ramah  lingkungan.
Pemandangan  yang sangat mempr ihatinkan.
@@@
Tak  terasa  waktu  cepat  berlalu,   aku  telah  lulus  SMA  dan  mendapatkan
beasiswa  untuk  melanjutkan  ku liah  di  luar  neger i  tahu n  depan,  aku  pun  pu lang
kampung  menemui  ayah  dan  ibuku u ntuk  memberitahukan kabar  bahagia  ini,  aku


mendengar  kabar bahwa,  perusahaan kelapa sawit yang  dulu p ernah  sosialisasi  ke
kampung  kami  waktu  aku  masih  SD  semakin  gencar  untuk  memecah  belah
masyarakat kampu ng kami,  mereka banyak  bekerjasama  dengan o rang-or ang yang
sengaja  untuk  diadu  do mba  untuk  menerima  perusahaan  kelapa  sawit  di
kampungku, tapi sebag ian besar masyarakat dikampungku  meno lak. Dan aku baru
mengetahui  bahwa  perusahaan  tersebut  telah  bekerjasama  dengan  para  pejabat-
pejabat  yang  ada  d i  pemerintahan  untuk  memper luas  lahan  produksi  mereka  di
daerah kampungku di Lo ng Pahangai.
“Murip harmonis dahin alam, demi keberlangsungan urip lang lebeh sayuu”
(Hidup  harmonis  dengan  alam,   demi  keberlangsungan  masa  depan  yang  lebih
baik).
Seperti  Tingang  –Burung  Enggang-  yang  menggepakkan  lebar  sayapnya,  seperti
itulah aku akan terus menggapai mimpi  dan cita-citaku.
Long Pahangai, 27 Juli 2012
*Penulis Buku Antologi Cerpen “Kaltim dalam Cerpen Indonesia” dengan
judul “Cahaya  dari Tepian Mahakam”



Biodata Penulis
Nama Pena    : M.  Saipu l / M. Rietsky  Fad hillah
Nama Asli    : M.  Saipu l
Tempat/Tanggal Lahir: Samar inda, 15 Februar i 1986
HP      : 085246193293 / 085387556700
Alamat Rumah  : Jl.  Sutan Syahrir No. 24 RT.08 Kel. Tanju ng Laut Indah
Kec. Bontang Selatan, Bontang  ko depos 75322
Penghargaan  :
1.  Koresponden  kontributor  Freelence  Majalah  Eig er  Adventure  News
Bandung
2.  Ketua  Divisi  Pro duksi  Forum    Lingkar    Pena  Cabang  Samarinda  Tahun
2007
3.  Penu lis Buku Ku mcer  TTM ”in The name of friendship ” Tahun 2007
4.  Salah  satu  penulis  Cerpen  didalam  buku   Anto logi  Kaltim  dalam  Cerpen
Indo nesia dengan judul  “Cahaya dari Tepian Mahakam” Tahu n  2011
5.  Juar a III Lo mba Karya Tulis Mahasiswa Universitas Mu lawarman
Hobi      : Membaca, menulis, wall  climbing, Adventur e, Traveling
E-mail     :
ipoel.dkrbo ntang@gmail.com
Facebook / Twitter  :
m.rietsk y_ fadhillah86@yahoo.com
/  ipoel taripang