Monday, July 29, 2013

BAB YANG HILANG “NAPAK TILAS PENINGGALAN KERAJAAN KUTAI DI MUARA KAMAN KALIMANTAN TIMUR”

Prasasti 1
Matahari mulai meninggi, teriknya sangat menyengat kulit, namun tidak menyurutkan semangatku bersama teman yang ku kenal dari Samarinda Backpacker untuk napak tilas menuju situs peninggalan sejarah Hindu-Budha di Nusantara, Kerajaan Kutai Martadipura, tanpa ada perencanaan yang matang dan petunjuk yang jelas mengenai keberadaan situs peninggalan prasasti Yupa Mulawarman, kami pun nekat melakukan napak tilas mencari tahu keberadaan peninggalan sejarah Kerajaan tertua bercorak Hindu-Budha di Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kertanegara.
Prasasti 2
Perjalanan yang menghabiskan waktu sekitar 2,5 jam dari samarinda menuju Muara Kaman, melalui beberapa desa dan salah satu desa yang mengalihkan perhatian saya adalah Pemukiman Penduduk Hindu Bali yang melakukan transmigrasi pada tahun 80-an di Desa Kertha Buana (L4), sehingga mengingatkanku pada perkampungan penduduk di Bali yang ditandai dengan adanya Pura dihalaman rumah mereka, tak hanya itu saja danau yang berada dilembah desa ini juga memukau perhatian saya, danau yang dipenuhi dengan tambak apung milik masyarakat didesa ini apabila dilihat dari atas sangat indah, perjalanan kami pun terus berlanjut melewati perkebunan kelapa sawit dan lokasi tambang batu bara, serta pemandangan sawah dikanan-kiri jalan yang masih menghijau, menandakan bahwa baru saja ditanam.
Perjalanan panjang yang sangat melelahkan ini membuat kami  memutuskan untuk sejenak beristirahat di Desa Separi Besar, setelah merasa cukup beristirahat dan meregangkan otot sejenak kami pun melanjutkan perjalanan, jalan bebatuan yang panjang dan berkelok sangat melelahkan kami, kami pun sempat berputus asa, dikarenakan jalan bebatuan tersebut seolah tak berujung dan dikiri-kanan jalan hanya pemandangan ladang masyarakat saja, hanya ada beberapa saja pondok-pondok ditengah ladang yang usang ditinggalkan oleh penghuninya.
Namun, semangat kami untuk ingin mengetahui peninggalan sejarah peradaban manusia pertama di Indonesia dan menelusuri jejak peninggalan sejarah Kerajaan yang bercorak Hindu-Budha di Nusantara tepatnya Kerajaan Kutai sangat kuat, sehingga rasa lelah pun pergi dengan sendirinya setelah mendapatkan titik cerah dari pengendara sepeda motor yang kami singgahi untuk bertanya arah jalan menuju desa Muara Kaman Ulu, dan akhirnya kami pun tiba di Desa Muara Kaman, Desa yang tak begitu ramai penduduknya ini sangat asri dan suasana tenang dan sepi sangat terasa.  Kami pun sejenak menuju Kantor Kecamatan Muara Kaman Ulu untuk mencari informasi mengenai 7 prasasti Yupa penginggalan Kerajaan Kutai atau yang lebih dikenal Kerajaan Mulawarman atau Kutai Ing Martadipura.
Koleksi Prasasti Museum Kutai Ing Martadipura
Kami bertemu dengan bapak Arsil, staff kecamatan dan merupakan anggota Lembaga Adat Besar menuturkan bahwa lokasi pertama kali Kerajaan Kutai terletak dipinggiran sungai Kedang Rantau, percabangan anak sungai Mahakam, Kerajaan ini berdiri dari abad ke-4 Masehi yang mulanya dipimpin oleh Raja Kudungga yang memiliki anak bernama Aswawarman dan memiliki cucu bernama Mulawarman. Dan ditempat ini lah dahulu sebagai pusat penyebaran agama Hindu-Budha berasal.

SEJARAH KERAJAAN KUTAI MARTADIPURA
Museum Kerajaan Mulawarman Kutai Ing Martadipura
Menurut literature yang ada mengatakan bahwa Raja Kudungga adalah pembesar kerajaan dari kerajaan Campa (Kamboja) yang bergelar anumerta dewawarman yaitu Raja yang mendirikan Kerajaan yang berhubungan sangat baik dengan India, dan tak heran di masa itu daerah ini sebagai pusat penyebaran agama Hindu dan sebagai pusat perdagangan. Raja Kudungga memiliki anak yang bernama Aswawarman yang bergelar Wangsakerta yang berarti pembentuk keluarga dan memiliki anak yang bernama Mulawarman Nala Dewa, pada masa pemerintahan Raja Mulawarman ini lah Kerajaan Kutai mengalami masa kejayaannya, sebenarnya Nama Kutai diambil dari para ahli pada tahun 1870 yang melakukan penelitian di Muara Kaman, Nama Kutai sendiri adalah nama daerah tempat ditemukannya 7 prasasti Yupa Mulawarman yang mengangkut sejarah Kutai Martapura yang selalu disebut-sebut dengan nama Kerajaan Nama Kutai mulawarman namun tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini dan memang sedikit informasi yang diperoleh.
Prasasti 3
Pada Masa Pemerintahan Raja Mulawarman, Kerajaan Kutai mengalami masa keemasan, wilayah kekuasaannya meliputi hamper seluruh wilayah Kalimantan Timur, hal ini menurut penuturan Bapak Effendi penjaga Museum Kutai Ing Martadipura, bahwa pernah ada ditemukan arca Agastya didalam Gua Kombeng yang sekarang masuk ke dalam Kabupaten Kutai Timur tepatnya di Kec. Kongbeng, dan arca Budha di Kota Bangun (Bernet Kempers 1959) kedua acara ini menjadi koleksi Museum Nasional Jakarta, tidak hanya itu penemuan selanjutnya berada di seberang sungai Kedang Rantau ditemukan kuburan-kuburan tua yang diperkirakan kuburan tua Martapura.
Prasasti 4
Sebelum arca Agastya dan Arca Budha ditemukan, pada tahun 1870 ditemukan pula 7 Prasasti Yupa yang menjelaskan masa keemasan Raja Mulawarman yang dipersembahkan dan dibuat oleh Para Brahmana atas kedermawanan Raja Mulawarman Nala Dewa yang menyumbangkan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana yang datang pada saat upacara tersebut, Sehingga para Brahmana membuat Prasasti sebagai tanda terima kasih berupa 4 buah tugu (batu prasasti yang disebut Yupa), 2 buah Lencana Kerajaan yang terbuat dari Emas dan Patung Kura-kura Emas yang disimpan oleh seorang keturunan Raja-raja di Muara Kaman. Prasasti tersebut telah dibawa ke Jakarta sebagai Koleksi Museum Nasional, sehingga koleksi yang berada didalam Museum Kutai Ing Martadipura adalah 7 buah Prasasti duplikatnya, namun ada lagi satu peninggalan kerajaan Mulawarman yang masih berada ditempat aslinya adalah Lesung Batu yang diperkirakan berukuran panjang sekitar empat meter, Menurut Mitos yang beredar, Lesung Batu ini pernah akan dibawa ke Jakarta, namun tidak ada satu pun yang dapat memindahkannya dari tempat asalnya dengan menggunakan alat sekalipun, Lesung Batu  ini menurut warga setempat sangat dikeramatkan, dan sampai sekarang banyak warga  keturunan Hindu mengadakan upacara keagamaan di sekitar  Lesung Batu ini, bahkan banyak warga dari Pulau Dewata dan India yang khusus datang untuk melakukan ritual keagamaan disekitar Lesung Batu ini.
NAMA-NAMA RAJA  KERAJAAN KUTAI
Prasasti 5
Prasasti 6
Prasasti 7
1.       Raja Kudungga, gelar anumerta Dewawarman adalah Raja yang mendirikan Kerajaan Kutai
2.       Raja Aswawarman (anak Kundungga)
Aswawarman adalah Anak Raja Kudungga.Ia juga diketahui sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai sehingga diberi gelar Wangsakerta, yang artinya pembentuk keluarga. Aswawarman memiliki 3 orang putera, dan salah satunya adalah Mulawarman.
3.       Raja Mulawarman (anak Aswawarman)
Mulawarman adalah anak Aswawarman dan cucu Kundungga. Nama Mulawarman dan Aswawarman sangat kental dengan pengaruh bahasa Sanskerta bila dilihat dari cara penulisannya.
4.     Maharaja Marawijaya Warman
5.     Maharaja Gajayana Warman
6.     Maharaja Tungga Warman
7.     Maharaja Jayanaga Warman
8.     Maharaja Nalasinga Warman
9.     Maharaja Nala Parana Tungga
10.  Maharaja Gadingga Warman Dewa
11.  Maharaja Indra Warman Dewa
12.  Maharaja Sangga Warman Dewa
13.  Maharaja Candrawarman
14.  Maharaja Sri Langka Dewa
15.  Maharaja Guna Parana Dewa
16.  Maharaja Wijaya Warman
17.  Maharaja Sri Aji Dewa
18.  Maharaja Mulia Putera
19.  Maharaja Nala Pandita
20.  Maharaja Indra Paruta Dewa
21.  Maharaja Dharma Setia

BERAKHIRNYA KERAJAAN KUTAI
Prasasti Yupa Lesung Batu
Kerajaan Kutai Ing Martadipura mengalami kehancuran dan berakhir pada saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia yang tewas dalam peperangan dengan Kerajaan Kutai Kertanegara ditangan Raja Kutai Kertanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa Kerajaan Kutai Kartanegara berbeda dengan Kerajaan Kutai Martadipura atau Kerajaan Mulawarman. Kerajaan Kutai Kartanegara yang kemudian menjadi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura berdiri pada awal abad ke-13 di daerah yang bernama Tepian Batu atau Kutai Lama (Tanjung Kute) yang kini menjadi sebuah desa di wilayah kecamatan Anggana dengan Raja Pertamanya adalah Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325). Kerajaan ini disebut dengan nama Kerajaan Tanjung Kute dalam kitab Kakawin Nagarakartagama, yaitu salah satu daerah taklukan di Pulau Kalimantan oleh Patih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit.
Pada abad ke-16 Kerajaan Kutai Kartanegara dibawah pimpinan raja Aji Pangeran Anum Panji Mendapa berhasil menaklukkan Kerajaan Kutai Mulawarman yang terletak di Muara Kaman. Sehingga nama kerajaan diganti menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura sebagai peleburan dua kerajaan tersebut.
Prasasti Yupa Lesung Batu
Pada abad ke-17, agama Islam yang disebarkan Tuan Tunggang Parangan diterima dengan baik oleh Kerajaan Kutai Kartanegara yang saat itu dipimpin Aji Raja Mahkota Mulia Alam. Setelah beberapa puluh tahun, sebutan Raja diganti dengan sebutan Sultan. Sultan Aji Muhammad Idris (1735-1778) merupakan sultan Kutai Kartanegara pertama yang menggunakan nama Islami. Dan kemudian sebutan kerajaan pun berganti menjadi Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura.
Kesultanan ini sempat mengalami perpindahan ibukota kerajaan sampai tiga kali, mulai dari Kutai LamaPemarangan (Jembayan) hingga ke Tepian Pandan (Tenggarong).

Muara Kaman, 27 Juli 2013



Sumber : Berbagai sumber