Monday, June 18, 2012

Hutanku Hilang Dalam 1 Menit


Dimanakah tegaknya barisan Dipterocarpaceae
Kerusakan Hutan Di Taman Nasional Kutai
Kemanakah perginya burung-burung pagi
Gersang tanah ibuku
Gundul hutan-hutanku
Tangan jahil kotori bumi belantara

Jangan salahkan Tuhan
Bila bencana melanda
Saksikanlah betapa
Malangnya disana

Tergores dan Terluka
Tumbang tiada terjaga
Wajah-wajah serakah
Telanjangi alam ini

Dengarlah ratapan Hutan Rimba Raya
Dengarlah suara jerit Alam terluka
Dengarlah Bencana
Merenggut korban jiwa
Dengarlah cicit burung yang terluka”

Lagu ”Jeritan Hutan Rimba Raya” tersebut diatas tidak asing lagi terdengar oleh para forester atau rimbawan/rimbawati yang mengingatkan kita kepada fenomena alam, fenomena betapa tingginya kerusakan hutan alam yang terjadi sekarang ini akibat tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab. Dimanakah kita akan menjumpai barisan pohon-pohon Dipterocarpaceae endemik asli berasal dari kalimantan di masa yang akan datang jika nantinya kita hanya bisa menyaksikan barisan-barisan kelapa sawit yang memenuhi pulau yang terkenal dengan ”Ulin, meranti dan bengkirai” ini, yang sebentar lagi akan menjadi serambi depan antara pulau Kalimantan-Malaysia, dan akan menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan ”Sangat naif memang, tetapi itulah kenyataannya”. Seharusnya masyarakat Kalimantan harus bangga dong, atas program pemerintah sawit sejuta hektar. Yah, asalkan tidak merugikan masyarakat saja, tentunya, Semoga.

Siapakah yang akan kita salahkan saat bencana melanda di mana-mana seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, gempa bumi dan bencana alam lainnya yang terjadi akibat wajah-wajah serakah yang melakukan illegal logging, dan konversi lahan hutan untuk perkebunan, pemukiman masyarakat yang berdampak pada kerusakan hutan dan hilangnya fungsi hutan sebagai fungsi lindung, fungsi konservasi dan fungsi pemanfaatan. Ironis sekali.

Dengarlah ratapan Hutan Rimba Raya yang membawa pertanda akan datangnya bencana, bencana yang akan memporak-porandakan segala isi bumi, dengarlah suara jerit alam terluka yang bergejolak mengeluarkan murka gempa di berbagai daerah akibat perbuatan manusia  juga yang tanpa henti menguras dan menjamah alam yang tak berdaya ini. Alam juga bisa berbahasa, alam juga bisa merasa, dan alam juga bisa murka.

Hutan Indonesia merupakan salah satu hutan tropis terluas yang menjadi paru-paru dunia, keanekaragaman hayati (Biodiversity) hutan Indonesia pun tertinggi di dunia. Keanekaragaman hayati yang dapat menjaga kelangsungan hidup umat manusia dalam hitungan lintas generasi, sayangnya dalam 50 tahun terakhir ini Indonesia telah kehilangan 64 juta hektar hutan dataran rendah atau 40 % dari luas hutan sebelumnya yang dikarenakan oleh Illegal Logging, Kebakaran Hutan, Perkebunan, dan konversi lahan untuk kepentingan-kepentingan politik. Sejak tahun 1996 laju kehilangan hutan Indonesia mencapai 2 juta hektar per tahun.

Setiap tahun kita kehilangan hutan seluas lebih dari 3 kali luas wilayah DKI Jakarta atau kita kehilangan hutan seluas 6 kali lapangan bola setiap menitnya. Pengelolaan HPH yang tidak memperhatikan keberlanjutan hutan(Suistainable) telah menyebabkan 17,4 juta hektar hutan alam di 3 pulau besar seperti Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi sejak tahun 1970.

Kebakaran hutan menjadi salah satu faktor berkurangnya hutan alam sebanyak 9,7 hektar hutan terbakar pada tahun 1997-2002, pengembangan sektor perkebunan selama kurang lebih 30 tahun terakhir menciptakan kerusakan dan berkurangnya hutan dataran rendah seperti program sejuta sawit di perbatasan Kalimantan-Malaysia yang sebentar lagi akan direalisasikan oleh pemerintah yang banyak menimbulkan konflik antara pro dan kontra, antara menyejahterakan masyarakat di perbatasan oleh pemerintah dan menyengsarakan rakyat di perbatasan, antara kepentingan politik dan kepentingan sosial masyarakat, implementasi program sawit terdahulu tak pernah berhasil, kayu habis tapi kebun sawit tak jadi. Sehingga hutan dataran rendah semakin rusak dan luas hutan menjadi berkurang. Kasus itulah yang telah menimpa beberapa pejabat yang berwenang di Kalimantan Timur dengan dugaan kasus Korupsi dalam sektor Kehutanan.

Sementara masyarakat perbatasan benar-benar membutuhkan pembangunan infrastruktur yang secepatnya, hal ini dapat dipenuhi apabila ada program yang berpihak kepada masyarakat. Selama ini belum pernah ada kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur yang mendukung pada masyarakat perbatasan. Program Sejuta Sawit di perbatasan ini sebenarnya sangat baik, mengingat kebijakan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menginginkan wilayah perbatasan menjadi serambi depan negara ini. Yang namanya serambi itu bagus dan indah. Tapi, buktinya hingga sekarang, pemerintah hanya menjadikannya slogan saja, tanpa membuktikan secara langsung di lapangan, namun dalam implementasinya harus profesional dan tidak hanya menguntungkan swasta. Karena itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur diminta harus bisa membuktikan keseriusannya untuk membuat sejuta sawit di perbatasan demi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Karena selama ini, lembaga apa pun yang dibentuk pemerintah untuk mengawasi jalannya program pemerintah, hanya menjadi lip service pemerintah saja, sehingga diragukan masyarakat. Pertanian tebas bakar, land clearing, perkebunan rakyat dan pembukaan lahan untuk pemukiman juga menjadi andil yang besar bagi rusaknya hutan dan fungsinya. Memang kebijakan pengelolaan hutan senantiasa dipengaruhi oleh kondisi politik nasional dan pasar global, lemahnya penegakan hukum didalam bidang kehutanan semakin menciptakan ketidakjelasan dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan, apalagi otonomi daerah yang banyak  melahirkan konflik kewenangan pengelolaan hutan.

Nasib hutan Indonesia semakin mengkhawatirkan, bukan saja karena kita kehilangan 2 juta hektar setiap tahun tetapi juga karena bencana alam yang menyertainya. Banjir Jakarta tahun 2002 merupakan bukti hilangnya daerah resapan air di kawasan Bogor Puncak cianjur mengakibatkan banjir besar di Jakarta. Banjir yang memaksa 381.000 orang mengungsi, 300 bangunan sekolah  rusak, 175 tempat ibadah rusak berat bahkan ribuan korban jiwa melayang.

Roda perekonomian lumpuh hampir di seluruh penjuru kota. Bencana lain yang tak kalah mengerikan adalah tanah longsor, seperti yang terjadi di kawasan rekreasi pacet Mojokerto tahun 2002 lalu, tercatat 31 orang korban tewas ”mengerikan” mengingat masih ada 32 kabupaten dan kota yang merupakan daerah rawan banjir dan longsor di seluruh Indonesia seperti kabupaten-kabupaten yang berada di pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan pulau Irian.

Bencana berikutnya adalah kebakaran hutan antara tahun 1997 sampai 2002. Kebakaran hutan Indonesia merupakan kebakaran terhebat di dunia sebesar 11,7 juta hektar hutan terbakar, kerugian ekonomi mencapai angka yang fantastis sekali 12,8 – 21,6 Trilyun rupiah, hampir dua kali lipat APBN 2003 bidang pendidikan. Setiap tahun jutaan manusia tepatnya 12.000.000 orang menjadi korban kabut asap, mulai dari gangguan saluran pernafasan biasa hingga infeksi yang serius, sebanyak 44.000 kasus infeksi pernafasan, akibat lain adalah hilangnya keanekaragaman hayati walaupun tidak pernah tercatat secara pasti dilapangan setelah kebakaran hutan terjadi, bisa dibayangkan berapa banyak binatang yang ikut terbakar.

Ketika musim kemarau tiba bahaya kekeringan mengancam dimana-mana baik untuk kebutuhan pengairan areal persawahan hingga kebutuhan air sehari-hari rumah tangga, begitu banyak tragedi kemanusian akibat bencana lingkungan, kini saatnya kita melakukan aksi nyata agar bencana tak lagi terulang di masa depan.

Bencana yang sering terjadi di Samarinda misalnya adalah banjir, hujan turun sedikit saja sudah rawan untuk terkena banjir seperti daerah-daerah di sekitar Antasari,  Cendana,  M.Yamin,  Sempaja,  Pramuka dan masih banyak lagi daerah-daerah yang rawan tergenang banjir, hal  itu disebabkan karena hilangnya daerah resapan  air di kawasan lempake dan beberapa kawasan-kawasan resapan air lainnya. Liat saja daerah resapan air dan gunung-gunung yang semula tinggi menjulang dalam sekejap saja dapat disulap menjadi perumahan yang indah dan asri yang menawarkan berjuta pesona dan fasilitas yang lengkap dalam jangkauan kaum elite di daerah Lempake, Sempaja dan daerah perumahan lainnya, sehingga berdampak pada daerah sekitarnya.   Memang pantas kalau sebutan Samarinda Kota Tepian dirubah fungsi menjadi Samarinda Kota Tepian banjir ”mengerikan”.

Bencana alam lainnya adalah tsunami yang terjadi di Aceh beberapa tahun silam yang mengakibatkan ratusan ribu korban nyawa menghilang, Gempa Bumi di Maumere, Gempa bumi di Jogya dan Jawa Tengah yang  baru-baru ini terjadi yang mengakibatkan ribuan korban, serta bencana alam lainnya seperti Tanah longsor dan Banjir di berbagai daerah seperti Banjir dan tanah longsor di Manado, banjir bandang di Aceh dan lain sebagainya.

Hal terakhir yang tak kalah pentingnya adalah sikap kita sendiri sebagai konsumen produk-produk hasil hutan, sudahkah kita dengan bijak menggunakan produk-produk hasil hutan tersebut. Dengan hilangnya hutan alam ini, maka kita telah kehilangan keanekaragaman hayati yang begitu tinggi nilainya, hilangnya hutan menjadi petaka kehidupan, Jika hutanku sakit, hasratku bangkit untuk melestarikan dan mengkonservasi keanekaragaman hayati guna anak cucu kita di masa mendatang, ”Bila pohon terakhir habis, dan air terakhir pun habis ternyata uang tak dapat dimakan”, betul tidak?,  kini saatnya kita untuk berbuat bersama dan melakukan aksi nyata agar bencana tidak terulang lagi di masa depan, tak ada kata terlambat untuk mencegahnya. Mari kita bersama ”cegah bencana lingkungan, satu rumah satu pohon” Sebagai wujud dari kepedulian kita untuk melestarikan dan melindungi keanekaragaman hayati di masa mendatang.






Kota Tepian, 19 Januari 2007
M.Saipul


Penulis Buku Antologi Kalimantan Timur dalam Cerpen Indonesia

No comments:

Post a Comment