Tuesday, June 19, 2012

Cahaya dari Tepian Mahakam * Oleh: M. Saipul **


Malam mulai beranjak larut, suara binatang malam perlahan mulai kiut, tabuhan irama musik disco kian malam, kian mengalun keras, menghentak-hentak di dasar lantai disco, lampu-lampu temaram Ibukota menghiasi pinggiran-pinggiran kota Tepian.
Keheningan malam, menggugah hasrat dan menggelitik di dalam kalbu, membawa imajinasi kian jauh menerawang menguncup dewi-dewi malam, jalan-jalan Ibukota terlihat lenggang, hanya satu-dua saja kendaraan yang berlalu-lalang. Udara malam yang dingin tak menghalangiku untuk sejenak menikmati kehidupan malam para kaum ekspatriat yang melepaskan penat di warung remang-remang, café, pub, dan lantai disco yang begitu kelam menampar ketermanguanku, adalah rutinitas yang dilakoni para penikmat kehidupan malam menjelang malam kian meninggalkan peraduannya .
Jam dipergelangan tanganku menunjukkan pukul 02.00 dini hari, udara malam semakin dingin menusuk sendi-sendi raga yang letih. Aku pun semakin melaju di balik kemudi setir mobil yang mengantarku ke suatu tempat di mana aku biasa menghabiskan malam menikmati pemandangan yang indah dibalik lampu-lampu temaram di pinggiran sungai Mahakam di jalan Gajah Mada yang menyajikan beraneka “Jajanan”  serta suguhan-suguhan yang tak pernah sepi dikunjungi oleh para penikmat modernitas kehidupan malam yang menguncup dewa-dewi malam tak pernah puas dan tak henti-hentinya menyajikan berbagai layanan jasa mulai dari panti pijat, bola sodok, hingga bisnis esek-esek dan penjaja seks.

@@@
Disisi lain, aku mulai berimajinasi menerawang jauh menembus cakrawala yang gelap di bawah arus gelombang sungai mahakam menjelajah disetiap sudut-sudut kota yang indah dibalik temaram gemerlap lampu-lampu Ibukota sambil menikmati Jagung bakar dan kopi hangat, adalah rutinitas bagiku setiap malam melepas penat dan letih di Tepian Sungai Mahakam setelah seharian penuh menghabiskan waktu bergelut dengan komputer mengetik artikel-artikel yang akan diterbitkan besok pada harian Ibukota, serta beberapa cerpen yang harus diselesaikan dalam waktu dekat.
“ Ini den, jagung bakarnya udah matang dan kopi hangatnya……” Sapa wanita ayu sambil meyodorkan beberapa buah jagung bakar dan kopi hangat yang aku pesan sebelumnya.
Pandangan mataku beralih ke sosok wanita berparas ayu membuyarkan lamunanku.
“Lho…Bi minah mana? Biasanya Bi minah yang mengantarkan pesananku?” Aku terkejut ketika kudapati bukan Bi Minah yang mengantarkan pesananku.
“Bi… Minah lagi sakit, sekarang ada dirumah.” Dengan terbata Ia mulai menjawab, mungkin belum lebih akrab denganku, seakrab aku dengan Bi Minah penjual jagung bakar di Tepian Mahakam yang sudah dua tahun terakhir ini aku menjadi langganan jagung bakar dan kopi hangat sambil menikmati pemandangan sungai Mahakam, lampu temaram penduduk di pinggiran Sungai Mahakam dan gemerlap lampu kerlap-kerlip Masjid Islamic Centre yang termegah se-Asia Tenggara itu serta tidak lupa pula meyaksikan wanita-wanita malam yang penuh geliat manja memnuhi warung remang-remang dan gang-gang sempit.
“Bi Minah lagi sakit apa? Trus Ade ini siapa?”Selidikku pada wanita tersebut sambil asik menikmati hidangan jagung bakar yang super lezat meski tak selezat masakan Bi minah.
“Bi Minah lagi demam dan batuk-batuk, saya lastri den…Saya suruh Bi Minah istirahat saja dirumah, saya yang menggantikannya berjualan untuk sementara den.” Ia pun memulai cerita dengan logat jawa yang kental.
“Panggil mas atau rietsky aja nggak usah aden..”sergahku dengan muka memerah. Ya, aku biasa dipanggil oleh Bi Minah dengan sebutan aden, mungkin Ia tau dari Bi Minah.
“Sudah Berapa lama sakitnya?”
“Sudah seminggu terakhir ini den, ehhh…sudah seminggu mas.hehehe?”balasnya sambil tersenyum malu-malu padaku
Ternyata sudah dua minggu terakhir ini aku absen untuk menikmati pemandangan di pinggiran Sungai Mahakam selama aku menjadi narasumber disalah satu program radio khusus remaja, menjadi narasumber talkshow di berbagai kegiatan remaja di berbagai sekolah dan media di Bontang, Tenggarong, Balikpapan dan Samarinda yang banyak menghabiskan waktu, tenaga serta pikiran sehingga aku tidak tahu kabar Bi Minah sekarang.
“Bukannya Bi… Minah nggak punya anak?”selidikku, yang aku tahu setelah Bi Minah bercerai dengan suaminya dan ditinggal mati oleh anak semata wayangnya, Bi Minah hidup seorang diri dirumah sewaan  yang berukuran 3 x 4 m di daerah kampung jawa di belakang kantor Gubernur Kaltim.
“Ya, mas…saya bukan anak Bi Minah”
Aku masih ingat ketika Bi Minah bercerita mengenai kehidupannya di mulai dari anak semata wayangnya yang berumur 10 tahun. Peristiwa naas itu terjadi ketika aden anak Bi Minah sedang mandi sore bersama teman-teman seumurannya di pinggiran Sungai Mahakam, Aden meninggal karena terseret arus Sungai Mahakam yang mengalir deras pada saat itu. Tak ayal sore yang cerah itu menjadi sore yang menyedihkan dan mengharukan di rumah duka bagi Bi Minah. Berawal dari situlah aku dipanggil oleh Bi Minah Aden, katanya sih biar Bi Minah ingat dengan anaknya Aden, Tapi dengan panggilan itu, aku merasa kasihan kepada Bi Minah karena, ketika memanggil nama Aden mata Bi Minah berkaca-kaca seolah ada dua arus kecil di kelopak matanya.
Seminggu setelah itu, suami Bi Minah menceraikan Bi Minah dan berpaling kepada wanita selingkuhannya. Lengkap sudah penderiataan hidup yang dilakoni Bi Minah di dunia ini, hidup di dunia miskin, ditinggal mati oleh anaknya dan yang lebih menyakitkan hatinya adalah suami yang telah mencampakkannya begitu saja dan berpaling kepada wanita lain. Menyedihkan.
Hal yang aku suka dari wanita yang berumur 56 tahun ini adalah ketabahan dan keikhlasannya menerima cobaan hidup yang diberikan dan digariskan oleh Allah SWT kepadanya. Di usia yang menjelang senja Bi Minah semakin lebih mendekatkan dirinya kepada Allah dari pada kehidupan duniawi yang hanya sementara dan penuh fatamorgana.
“Kita harus sabar dan ikhlas dalam menjalankan hidup di dunia ini, anak serta suami serta harta yang dititipkan oleh Allah sama kita hanya sementara saja den, harta juga tidak dibawa mati, yang di bawa mati adalah amal saleh kita yang telah kita lakukan semasa hidup.”petuah Bi Minah kepadaku
“Mas……mas……Rietsky”Panggil Lastri membuyarkan lamunanku.
“Oia…… gimana……sampai dimana tadi pembicaraan kita…” Aku sedikit gugup dengan suaranya yang lantang membuyarkan ingatanku kepada Bi Minah.
“Saya bersyukur bisa bertemu dengan orang yang sebaik Bi Minah”Kenangnya
“Memangnya kenapa De Lastri”Selidikku
“Mas lihat wanita yang berdiri di pinggir jalan itu?” Sambil menunjuk ke arah wanita yang dandanannya super menor yang dipenuhi dengan sapuan dan olesan bedak yang tidak ber”etika dan ber “moral memakai lipstik merah muda memakai rok mini super seksi yang nagkring di pinggir jalan, dan gang-gang sempit, menunggu lelaki hidung belang berkantong tebal penikmat “kupu-kupu malam”.
“Ya!!!”kataku sambil memperhatikan gerak-gerik wanita tersebut yang dapat menggoda syahwat.
“Dulu tempat itu adalah daerah kekuasaanku mas”
Tanpa ragu dan malu Ia mulai bercerita mengenai pengalaman hidupnya.
“Masya Allah...”Aku membatin
Ternyata wanita yang berada dihadapanku ini adalah bagian dari kehidupan malam yang menyajikan berjuta pesona keindahan dan kenikmatan sesaat.
“Ya, saya dulu bagian dari mereka mas”lanjutnya lagi tanpa isyarat dan komentar apa-apa dariku seakan mengerti batinku.
“Dua minggu yang lalu saya masih mencari lelaki hidung belang ditempat itu, hingga suatu malam saya dikejar-kejar sama Satpol PP Samarinda yang pada malam itu melakukan razia, entah mengapa saya tiba-tiba lari bersembunyi di bawah kolong meja tempat Bi Minah berjualan, beruntung pada saat petugas satpol PP menanyakan keberadaan saya kepada Bi Minah, Bi Minah mengatakan  tidak melihat saya kepada petugas razia, untuk melindungi dan menolong saya pada waktu itu. Saya merasa berutang budi kepada Bi Minah mas!”kenangnya mengingat peristiwa yang akhirnya membuat hidupnya kini berubah menjadi wanita baik-baik.
“Ooo... jadi De Lastri menggantikan Bi Minah berjualan untuk membalas kebaikan Bi Minah kepada De Lastri ya?
“Bukan itu saja mas”Memotong pembicaraanku
“Bi Minah juga mengajari saya untuk lebih mengenal Tuhan dan mendekatkan diri pada Allah.”lanjutnya.
“Hidup saya mungkin tidak seperti ini kalau malam itu tidak bertemu dengan Bi Minah”Ternyata Allah memberikan Hidayah kepada hambanya dengan berbagai macam cara dan memberikan jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi oleh hambanya.
“Allah memang selalu memberikan cobaan baik itu ringan maupun berat kepada kita agar kita lebih beriman dan bertaqwa kepada-Nya, seperti yang terkandung dalam Al-qur’an yang berbunyi Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali kaum tersebut merubahnya agar kita lebih bertaqwa”jelasku
“Seperti De Lastri kini yang diberi Allah Hidayah dalam hidup De Lastri, mungkin Bi Minah sebagai perantara saja dari Allah, itulah rahasia Tuhan tidak ada manusia yang mengetahui-Nya.”paparku lagi
“Iya... mas saya sudah sadar dan berjanji pada Bi Minah dengan bertobat kepada Allah untuk meninggalkan dunia yang begitu nista dan kelam yang telah lama saya lalui menjadi PSK.”ungkapnya.
“Allhamdulillah kalau De Lastri sudah insyaf dan bertobat kepada Allah dan tidak akan mengulanginya lagi kelak”

@@@

Tak terasa jam dipergelangan tanganku menunjukkan pukul 04.00 dini hari, tidak terasa obrolan kami kian semakin jauh bercerita perihal kisah kelam yang dilakoni Lastri yang mendapat hidayah dari Allah melalui tangan Bi Minah yang telah membantu, membimbing dan mendorong Lastri agar tidak terjerembab dari jurang kenistaan.
Ya, itu dibuktikan oleh Lastri dengan dandanannya yang telah menutup auratnya sekarang. Ya Ia lebih anggun memakai gaun gamis berwarna hitam berbordir, meski kayak ondel-ondel keringatan yang dipaksa menari sehari semalam dalam acara khitanan massal. Pakaian itu lebih baik dari pada pakaian wanita-wanita yang nangkring ditepi jalan yang super menor menunggu lelaki hidung belang.
Akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri obrolan kami dan berbenah untuk kembali pulang ke rumah.
“Barang-barangnya dimasukkan ke dalam mobil aja De...”Tawarku kepada Lastri untuk mengantarnya pulang.
“Nggak usah mas... jalan kaki saja...”sambil membersihkan dan merapikan meja dagangannya.
“Nggak apa-apa sekalian mas mau menjenguk Bi Minah”bujukku lagi.
Tanpa menolak lagi Ia pun mengangkut barang-barang dagangannya ke dalam mobil. Kami pun melaju dijalan yang sepi menuju rumah Bi Minah.
Di rumah petak berukuran 3x4 m ini kutemukan wanita paruh baya berumur senja ini tertidur lemas dan pulas diatas kasur yang lusuh.
Aku tak tega membangunkannya, Ia begitu lelah dan letih di umur senjanya itu, Ia lelah dengan kehidupan, Ia lelah dengan nasib tapi, sabar menjalaninya, Ia lelah dengan berbagai macam tipuan dunia yang menyilaukan mata, Ia lelah dengan semuanya.
“Ini...De... buat beli obat untuk Bi Minah” aku merogoh kantong dan menyodorkan amplop berisi beberapa lembaran ratusan ribu hasil dari aku menjadi narasumber pada acara talkshow tadi pagi.
“Terima kasih, mas…”
“Ya, sudah mas langsung pulang saja, kalau Bi Minah bangun, bilang saja tadi saya ke sini menjenguknya ini no telp mas, kalau ada apa hubungi saya saja” pamitku sambil memberikan Lastri kartu namaku.
“Assalamu alaikum”
“Wa alaikum salam”

@@@

Seminggu kemudian, aku mendengar berita dari Lastri mengenai kematian Bi Minah. Bi Minah meninggal akibat Tuberclosis (TBC) yang dideritanya sejak dua tahun terakhir.
Sesudah mengurus pemakaman Bi Minah aku langsung terbang ke Bali untuk menghadiri Launching buku yang aku tulis yang berjudul “The Miracle of Waiting , dan Perempuan Penghuni surga” yang aku persembahkan untuk Bi Minah yang telah memberiku inspirasi. Sebelumnya aku berniat mengajak Bi Minah untuk menghadiri launching buku yang aku tulis, tapi Tuhan berkehendak lain. Sebelum menghembuskan nafas terakhir Bi Minah berpesan padaku melalui suratnya yang berisi :



Assalamu alaikum
Den Rietsky, Bibi menitipkan Lastri kepada Aden, tolong dijaga dan dibimbing yang baik ya Den, Bibi sangat senang sama kalian berdua, Bibi senang kalau kalian menjadi suami-istri, kalian berdua sangat baik sama Bibi, Bibi juga mengucapkan terima kasih sudah mau menjaga Bibi waktu sakit, ini ada cincin kawin Bibi, cincin ini Aden berikan kepada calon isteri Aden nanti ya? Kalau Bibi pergi kalian tidak boleh sedih, kalian harus sabar, dan jangan lupa sholat ya Den, Lastri juga diingatkan kalau lupa”

Bi Minah

@@@

“Papa…Papa…ade mau maen mobing-mobingan cama abang, iya kan bang”
“Abang juga mau maen mobil-mobilan pa..”Rengek manja dua anak manis dan lucu-lucu dengan kecadelannya kepadaku.
“Iya...iya... boleh, tapi hati-hati ya”
“hole…hole… kita maen mobing-mobingan”teriak ade melompat-lompat.
Yah, sekarang aku sudah mempunyai dua anak laki-laki yang lucu hasil pernikahanku dengan Lastri sepulang dari Bali, aku menikahi Lastri, Aku menjalankan wasiat terakhir Bi Minah untuk menikahi Lastri, Kami pun sekeluarga berbahagia, Tepian Sungai Mahakam menjadi tempat yang terindah bagiku, di tempat ini aku menemukan cintaku, disinilah aku menemukan kehidupan realita malam yang ternyata tidak begitu telanjang menampar ketermanguanku .
Aku pun menerawang jauh menikmati aliran sungai Mahakam yang seakan berbisik dan mengingatkan aku pada sosok wanita penghuni surga yang mengajarkan aku arti hidup yang sesungguhnya yang semakin lama semakin digerus gelombang usia.
Dua kali kecil mulai mengalir di kelopak mataku dan bermuara pada sudut bibir, malam kian larut.





Tepian Mahakam 03 September 2006
*Cerpen dimuat di Buku Antologi Kalimantan Timur dalam Cerpen Indonesia”
**Penulis buku TTM “In The Name Of Friendship”
ipoel.dkrbontang@gmail.com  (0852 46 193 293)

No comments:

Post a Comment