Tuesday, June 19, 2012

Jangan Panggil Aku ODHA By: M.Saipul*


Rintik hujan membasahi ranting-ranting pinus yang gersang, mentari pagi menyusup dibalik tegakan-tegakan pohon jati, Aku menyaksikan dibalik tirai, dua ekor belibis sedang bercinta didalam kolam dekat taman, bunga Lotus merah merekah diatas tirta. Tapi, semua itu hanyalah semu dihadapanku.
Dua tahun berlalu, setelah peristiwa yang sangat memilukan itu terjadi, Aku masih saja tidak berdaya berada diatas kursi pesakitan ini, tubuhku sangat rapuh untuk aku gerakkan, berjalan saja aku harus dibantu oleh suster jaga di Pusat Rehabilitasi ini. Lamunanku terjaga mengingat ketika aku divonis menderita HIV Positif oleh salah satu konselor di VCT RSUD Taman Husada Bontang.
Aku sangat terpukul ketika dr. Ary memberikan amplop hasil test kepadaku yang menyatakan kalau aku menderita HIV Positif, sempat terlintas waktu itu untuk mengakhiri hidup, tapi wajah teduh dr. Ary menyadarkanku untuk tetap bertahan, dan meninggalkan segala perbuatan yang telah aku lakoni selama ini.
“Mas, mengakhiri hidup dengan cara yang tidak wajar adalah perbuatan yang dimurkai oleh Allah, ini adalah cobaan hidup yang diberikan oleh Allah untuk mas, agar mas Andi kembali kepada jalan yang benar dan menjauhi segala perbuatan buruk yang telah mas lakukan selama ini.” Nasihatnya padaku, namun tetap saja aku tak bergeming.

@@@
Hitam putih telah kugauli, dunia kelam telah aku telanjangi, lampu temaram lantai disco, Profesi sebagai Disc Jockey disalah satu club hiburan malam di Bontang telah lama aku lakoni. Setiap malam aku menyuguhkan alunan musik yang menghentak, menghujam dan melambungkan hasrat kaum modernitas malam. Malam itu, menjadi malam yang sangat menampar ketermanguanku, ketika aku membuka mata, aku mendapati diriku dalam keadaan tanpa sehelai benang pun yang melekat dalam tubuhku. Aku mencoba mengingat kejadian semalam, tapi, kepala ini terasa berat untuk kembali mengingat dan merunut kejadian yang sangat memalukan ini, dalam keadaan tidak sadar tubuhku dimanfaatkan oleh para ekspatriat yang menikmati setiap lekuk tubuhku bergantian. Aku sempat melawan dan berontak, tapi zat kimia yang menjalari tubuhku ini lebih kuat melawan dan memberontak disela-sela nadi dan mematikan sendi-sendiku.
Aku mencoba bangun dari tempat tidur dengan sisa-sisa tenaga, aku mengguyur badanku di kamar mandi, tubuhku serasa kaku dalam ratap aku mengumpat, mencaci dan memaki kepada orang-orang yang telah menghancurkan hidupku, apa yang aku jaga selama ini, hancur begitu saja dalam waktu sekejap.
Malam itu aku terperangkap dalam orang-orang yang selalu menjadi budak nafsu. Seperti biasa ketika malam mulai beranjak memasuki sepertiga malam, aku sibuk bermain dengan piringan hitam musik, mengantarkan wajah-wajah yang haus akan dunia malam yang menyuguhkan kenikmatan dan melambungkan angan para penikmatnya.

@@@
Malam berkabut, diselimuti kegelapan malam, aku mengemudikan motor ditengah malam yang mulai beranjak menaiki tahtanya. Jalan raya pun terlihat lenggang, tidak satu pun kendaraan yang hilir mudik, tepat pukul duabelas malam, aku tiba di tempat aku menghabiskan sisa-sisa malam bersama para penikmat geliat malam. Belum sempat aku memarkir kendaraan, aku lalu dihampiri oleh seorang perempuan berdandan super menor memakai rok mini, dengan lintingan rokok di tangan kirinya, Mia begitu Ia dipanggil, Ia adalah salah satu pelanggan setia di club tempat aku bekerja, hampir setiap malam Ia tidak melewatkannya.
Aku pun masuk ke dalam club dan mulai memainkan lagu-lagu hasil aransemenku sendiri di rumah tadi, lampu disco pun mulai berputar, irama pun mulai menghentak-hentak, menghujam jantung para tamu-tamu yang bergoyang dan berdansa di lantai disco.
Malam itu begitu indah di mata para tamu-tamu yang hadir di club hiburan malam itu, selepas melambungkan hasrat para penikmat pesona malam, Aku pun beranjak dari altar Disc Jockey yang telah aku persembahkan pada ratu malam yang dahaga akan suguhan musik yang mengalun mengiri rembulan dibalik peraduannya.

@@@
Selepas mengantarkan para penikmat malam, aku pun mulai beranjak untuk kembali pulang melepas penat. Dari dalam club aku mendengar suara lirih memanggil namaku, akupun menoleh, dan tak dinyana suara tersebut berasal dari wanita paruh baya yang menggenakan blus warna biru muda sepadan dengan dandannya yg mengenakan eye shadow berwarna biru.
Wanita itu mengajak aku berkenalan dan mengajak aku untuk mengikutinya menuju suatu rumah mewah di area perumahan perusahaan, entah setan mana yang merasukiku waktu itu, aku manut saja dengan ajakan wanita itu, yang baru aku tahu Ia bernama Sandra.
”Mas Andi tolong antarin saya pulang yah? Dirumah ada party kami membutuhkan DJ agar partynya lebih rame” tawarnya dengan bau alkohol menyengat di bibir tipisnya.
Tanpa pikir panjangpun aku menerima tawaran sandra, aku melaju dijalan yang senggang, tak ada kendaraan yang lalu lalang, Dia pun mulai bercerita mengenai hidupnya yang ditinggal oleh suaminya keluar negeri karena urusan kantor, kami pun sampai di halaman rumahnya, setelah memarkir motor di dalam garasi akupun masuk ke dalam rumah, ternyata di rumah mewah itu telah berkumpul lima orang laki-laki muda dan dua orang perempuan yang memakai pakaian super mini, Aku pun berkenalan dengan mereka.
Jam dipergelangan tanganku menunjukkan pukul dua dinihari, aku mulai memainkan musik sesuai dengan permintaan sandra, mereka pun asik bergoyang di ruang tengah yang telah disulap menjadi lantai disco, bau alkohol dan keringat pun bercampur aduk menjadi satu di ruangan, aku terus asik memainkan piringan hitamku, tak berapa lama sandra menghampiriku dengan membawa segelas vodka, yah demi profesionalisme pekerjaan yang aku lakukan  yang harus menuntut untuk memuaskan pelanggan, aku pun menunguk minuman itu, lambat laun musik yang aku putar semakin tak bisa aku kendalikan, pandanganku berputar seiring berputarnya piringan hitam yang aku mainkan, dan akhirnya aku tak kuasa menahan berat beban di kepalaku ini, aku pun terjatuh, dalam samar aku melihat banyak orang yang mengerumuniku, dan aku merasakan badanku diangkat menuju salah satu kamar yang ada di rumah itu dan meletakkanku diatas kasur empuk, masih dalam samar, selepas para lelaki yang mengangkatku berlalu, aku melihat 3 wanita yang mengelilingiku dan merasakan helai demi helai pakaian yang aku kenakan dilecuti satu persatu, masih setengah sadar aku mendengar mereka berkata kepada yang lainnya.
“obatnya bereaksi mia” sahut sandra dalam samar
“sapa dulu donk mia, itu obatnnya tokcer sandra”balas wanita yang berada diatas kepalaku dan masih memengang gelas minuman dan menghisap rokok.
Aku mulai memberontak tapi tubuh ini tak mampu melawan zat-zat kimia apa yang telah diberikannya kepadaku hingga aku tak mampu bergerak, mungkinkah mereka mencampurnya tadi didalam minuman yang aku minum, setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi, dan ketika aku bangun, kudapati diriku tak berdaya dan tidak mengenakan apa-apa didalam kamar tidur disalah satu ruang di rumah itu.

@@@
Rintik hujan pun masih terus saja membasahi dedaunan disekitar taman di Rumah Sakit ini. Lamunanku tersentak ketika teriakan seorang wanita berparas ayu  mengejutkanku.
“dooorrrr.....”
“ayoo, lagi ngelamunin apa?” teriaknya
“aahh, nggak apa-apa” sahutku
obatnya sudah diminum mas”  katanya mengingatkanku
“belum mba, baru mau diminum” jawabku, sambil melirik jam dinding diruangan, yang menunjukkan waktu pukul 17.00 wita dan memang sudah masuk waktunya untuk meminum obat ARV (Anti Retroviral Virus), setelah aku divonis  menderita HIV Positif aku pun kemudian mengikuti saran mba Made salah satu aktivis yang peduli dengan penderita HIV/AIDS di Kota Bontang, yang selalu rajin untuk mengingatkanku untuk meminum obat ARV, kalau tidak sempat menjengukku, dia pasti meneleponku untuk memastikan aku telah meminum obat ARV.
“ini obatnya diminum dulu” balasnya sambil memberikanku segelas air putih dan beberapa obat berbentuk pil dan kapsul.
“terima kasih mba.” timpalku
“kalau waktunya untuk minum obat, jangan ditunda-tunda mas.” Sahutnya mengingatkanku sambil membersihkan meja disamping tempat tidurku.
“ya sudah, saya pamit dulu yah mas mau pulang” sambil membenarkan letak selimutku yang serba putih layaknya mummy.
Semenjak aku divonis menderita HIV/AIDS hanya dia yang selalu ada ketika aku membutuhkan sesuatu, sementara teman-temanku yang lain ketika mengetahui aku menderita HIV Positif satu persatu menjauh dan tak pernah menjengukkku, berbeda ketika dulu aku masih sehat, mereka selalu datang kepadaku untuk mengajakku hura-hura, dan kini mereka beranggapan bahwa aku adalah sampah masyarakat di mata mereka, tapi dr. Ary dan mba made serta beberapa teman-teman LSM yang peduli AIDS selalu memberikanku semangat dan memotivasi agar terus bisa menjalani sisa hidup.
Pernah suatu ketika aku merasa kesepian dan bosan berada di Pusat Rehabilitasi ini, aku mencoba untuk mengakhiri hidupku dengan menusuk-nusuk nadiku menggunakan jarum infus yang terpasang dilenganku, untung saja hari itu mba Made dan dr. Ary datang bersama wanita paruh baya yang selama sembilan bulan aku berada didalam rahimnya dan mencegahku untuk mengakhiri hidup. Dia pun memelukku dan menyemangatiku sambil meneteskan air mata untuk tetap bisa menjalani hidup, rangkulannya yang hangat membuat aku tersadar, orang yang aku cintai selama ini masih tetap bisa menerimaku meski aku dalam kondisi yang terpuruk sekarang ini.
“Sadar Nak, ini Ibu, apapun yang terjadi Ibu masih tetap sayang dan mencintaimu nak” sambil memengang pipiku dengan kedua tanganya yang lembut dan mengecup keningku sambil terisak dan menangis.
“Kamu harus janji sama Ibu, kamu harus bisa membahagiakan Ibu, jangan mengakhiri hidup dengan cara seperti ini, ini sangat dimurkai oleh Allah.” Nasihatnya yang menyadarkanku bahwa apa yang aku lakukan tadi salah mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri adalah sia-sia.
Suasana ketika itu hening dan semua yang ada di ruangan itu larut dengan lautan air mata di kelopak mata dan bermuara disudut bibir. Dr. Ary dan Mba Made mendekatiku dan merangkulku layaknya reuni keluarga yang lama dipisahkan oleh jarak dan waktu.

@@@
Dua tahun berselang aku menjalani terapi di Pusat Rehabilitasi, setelah aku divonis oleh dokter menderita HIV Positif dan umurku tidak akan lama lagi, tapi sang sutradara film kehidupan berkendak lain dan kini aku telah memulai episode baru menata dan menjalani kehidupan yang baru dengan status yang aku sandang, mereka sering memanggilku ODHA (Orang Dengan HIV AIDS), meskipun aku sendiri risih mendengarnya, karena aku punya nama dan namaku bukan ODHA, tubuhku yang dulu ringkih dan kaku layaknya mayat hidup lambat laun bisa kembali beraktifitas dan aku kini bergabung ke dalam Komisi Penanggulangan AIDS, organisasi yang peduli dengan HIV/AIDS, dan sering diundang untuk menjadi narasumber serta dilibatkan menjadi konselor untuk melakukan pendampingan sesama ODHA.
Aku menjadi motivator bagi mereka agar bisa menjalani hidup dan tidak berputus asa, inspirasi dan motivator alamiku mengapa aku bisa bertahan sampai sekarang ini menjalani sisa hidup adalah Ibu, yang selalu memberikanku kasih sayang dengan tulus dan ikhlas merawatku ketika aku divonis menderita HIV Positif, Dia tidak peduli dengan tetangga dilingkungan sekitar rumah yang mencemooh, mencaci makinya memiliki anak yang terkena HIV Positif.
Pernah suatu ketika di sore hari lirih aku mendengar suara ribut-ribut didepan rumah.
“Usir saja Andy dari kampung ini, dia sudah membuat aib di kampung ini” teriak salah satu tetangga yang tidak suka dengan kehadiranku kembali dirumah. Entah mereka dapat kabar darimana aku menderita HIV Positif.
“Iya, usir saja Dia, nanti anak-anak kami bisa tertular HIV gara-gara dia” sahut yang lain.
Entah setan atau malaikat mana yang merasuki Ibuku pada waktu itu, Aku melihatnya mengambil sebuah mandau  peninggalan almarhum Ayahku dan melemparkannya ketengah-tengah kerumunan tetangga yang telah berkumpul di depan rumahku.
“Ini mandau... silahkan ambil, bunuh saja anak saya kalau kalian menganggapnya hina dan aib dimata kalian, bagi siapa saja yang ada disini yang menganggap dirinya masih suci tidak pernah melakukan kesalahan dan tidak pernah berdosa selama hidupnya, silahkan ambil mandaunya, bunuh saja anak saya, saya ikhlas. Teriak ibuku sambil menyodorkan mandau mendatangi satu per satu ke orang-orang yang berkerumun.
Suasana pun mendadak menjadi hening tak ada suara yang terlontar dari orang-orang yang berkerumun didepan rumah, untung saja hari itu dr. Ary dan mba Made datang menjengukku, kaget serta takjub melihat apa yang telah dilakukan oleh Ibuku lalu merangkulnya masuk ke dalam rumah. Satu per satu orang yang berkerumun itu pun pulang dengan sendirinya, setelah diberi pemahaman mengenai HIV/AIDS oleh dr. Ary.
Aku pun memeluk erat tubuh Ibu yang tak terasa dua kali kecil mengalir disela-sela kelopak matanya serta mengecup dahiku. Saat itulah aku sadar bahwa  masih banyak orang-orang yang peduli kepada kita sesama ODHA, meski tak banyak orang yang mencemooh, cacian, makian serta umpatan sering sekali menghampiri di telinga kami, ibarat kami adalah musuh mereka yang harus dijauhi, perlakuan diskriminasi yang sering kami terima ditempat-tempat pelayanan publik, tapi kami berusaha untuk berpikiran positif dan tidak sakit hati atas cacian dan makian mereka yang tidak mengerti apa sebenarnya yang kami alami dan rasakan, mereka menganggap kami adalah sampah masyarakat dan aib bagi mereka. Tapi aku percaya melalui pendekatan dan pemahaman yang mendalam mengenai penyakit ini kepada mereka lambat laun akan sadar bahwa yang mesti harus dijauhi adalah penyakitnya bukan orangnya.

Denpasar, 17 Mei 2012
*Salah Satu Penulis Cerpen dalam Buku “Antologi Kalimantan Timur dalam Cerpen Indonesia” ed. Korie Layun Rampan dengan judul “Cahaya dari Tepian Mahakam”

1 comment:

  1. terharu mendengarnya, semoga mas andy diberikan ketabahan menghadapi hidup ini, tetap semngat ya

    ReplyDelete