Tuesday, October 29, 2013

Catatan Perjalanan RACING STAR #2 MAKASSAR BACKPACKER 2012

Istana Naga Sakti "Xian-Ma"

Kabut tipis perlahan jatuh diujung cakrawala di bumi celebes, aku menengok jam dipergelangan tangan menunjukkan angka 05.45 wita, perjalanan semalam dari Kalimantan Timur menuju Makassar membuatku lelah hingga terlelap dan hampir saja kesiangan, aku bergegas membasuh diri dan segera menuju Benteng Fort Rotterdam tempat starting point racing star#2 berlangsung, Benteng ini merupakan peninggalan dari jaman Belanda, di starting point ini kami diberikan pengarahan oleh panitia dan saya pun dipasangkan dengan Rifah Sakinah  salah satu anggota Makassar Backpacker, setelah mendapatkan penjelasan dari panitia, kami pun dipersilahkan jalan dan kami diberikan amplop tertutup yang berisi clue untuk menuju spot pemberhentian selanjutnya, kelompok kami mendapat giliran urutan yang ketiga dikarenakan racing mate saya terlambat 12 menit, sehingga kami diberi penalti.
Setelah membuka amplop yang diberikan sambil berjalan kaki kami harus menuju Spot Pertama dan menemukan Pasar Tradisional tertua dan yang pertama ada di Makassar yang masih bertahan sampai sekarang, pasar ini banyak dikunjungi oleh warga Tionghoa karena selain letaknya yang masih dikawasan Pecinan tapi banyak dijual berbagai makanan dan perlengkapan sembahyang mereka, Pasar yang terletak di jalan Bacan ini dulu disebut sebagai pasar Cina Toa (Paccinang) merujuk pada pembelinya yang kebanyakan warga Tiong Hoa, setelah bertanya sana sini, akhirnya kami menemukan Pasar yang dimaksud, di Spot ini para peserta diberi tantangan untuk membeli bahan-bahan yang terdapat dalam gulungan kertas yang diambil sendiri oleh peserta dan harga tidak boleh lebih dari Rp.5.000, tim kami mendapat gulungan kertas yang bertuliskan “Lombok” karena naluri sebagai seorang Backpacker yang harus meminimalkan biaya, akhirnya setelah melalui proses tawar menawar dengan penjual, kami mendapat Lombok dengan harga seribu rupiah saja.
Setelah selesai berbelanja di pasar Bacan kami segera menemui panitia dan mendapatkan amplop untuk menuju Spot kedua yaitu Rumah Ibadah umat Budha yang berada dijalan Sulawesi tidak jauh dari Pasar Bacan, Rumah ibadah tersebut dijuluki sebagai “Istana Naga Sakti” atau Xian Ma, setiap lantainya memiliki dewa-dewa yang berbeda-beda untuk dipuja. Di Spot ini peserta diberi tantangan untuk mencari minimal 3 dewa beserta tugas dewa tersebut dimasing-masing lantainya. Setelah menyelesaikan tantangan yang diberikan akhirnya kami pun mendapat clue selanjutnya untuk menuju ke Spot ketiga, kali ini spotnya terlalu jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki sehingga kami pun harus menggunakan metode hitchiking yaitu menumpang kendaraan tanpa harus mengeluarkan biaya. Spot ketiga adalah Vihara tertua, terbesar dan tertinggi di makassar, bangunan yang berbentuk pagoda ini memiliki sembilan tingkat, letaknya diapit Jl. G. Latimojong dan Jl. Veteran, lama berhenti dan menunggu dipinggir jalan akhirnya ada yang berbaik hati memberikan kami tumpangan, sebuah mobil box kosmetik berhenti didepan kami berdua dan tanpa basa basi kami segera naik dan menuju ke spot ketiga tetapi karena tujuannya berbeda sehingga kami pun turun dan menumpang menggunakan mobil pick up terbuka sampai kedepan lorong masuk Vihara. Tantangan di spot ini cukup menguras tenaga, kali ini peserta diberi tantangan untuk menghitung jumlah anak tangga yang ada di vihara tersebut hingga ke lantai sembilan. Dengan membawa beban tas yang berat dipunggung sambil tertatih langkah kaki perlahan menaiki anak tangga satu per satu, Vihara yang memiliki 189 anak tangga  ini masih dalam tahap pembangunan.
Patung Budha Di  dalam Pagoda
Setelah mendapatkan Clue selanjutnya di lantai sembilan, kami pun bergegas turun menuju spot keempat yaitu sebuah sumur tua dimana pusaka peninggalan kerajaan gowa hanya bisa dicuci dari air sumur ini, sumur ini merupakan salah satu dari 3 sumur kerajaan Gowa selain Sumur Bissua dan Sumur Kabaraniang yang lokasinya masih saling berdekatan. Sumur ini tidak jauh dari kompleks pemakaman Raja Gowa yang paling familiar dan makam sahabatnya yang juga Raja Bone. Perjalanan menuju spot keempat masih tetap menggunakan hitciking, dan kami bertemu dengan tim Hiksan dan Aspar dalam satu mobil pick up, setelah turun didepan lorong kami bertemu dengan racing mate yang lain (Yanti dan Nisya), (Burhan dan Andi), (Amin dan Rahmat), (K’Asni dan Yesti), (Firman dan Gita), (Bali dan Tajab) serta pasangan yang selalu terdepan karena menggunakan taxi adalah (EfDe dan Feby).
Tantangan kali ini terbilang gampang-gampang susah, tantangan kali ini adalah mencari tahu Sejarah Bungung -dalam bahasa lokal yang berarti sumur- Bissua, susahnya adalah karena sebagian besar masyarakat yang berdiam disana tidak tahu mengenai sejarah bungung Bissua itu sendiri, yang mengetahui adalah pak RT setempat, namun yang bersangkutan sedang ada rapat di kecamatan, sehingga kami pun harus banyak menghabiskan waktu untuk bertanya kepada warga sekitar. Menurut penuturan warga sumur bissua adalah tempat para mandi para Bissu –dukun yang memiliki kepribadian ganda – para bissu mandi untuk mengetahui jenis kelamin mereka, apakah mereka Perempuan, Laki-Laki, Setengah Perempuan, Setengah Laki-Laki dan tidak memiliki alat kelamin.
Dari Bungung Bissua kami mendapat clue untuk meneruskan perjalanan menuju spot kelima yaitu sebuah Danau yang sangat jaya di era 80-an sebagai obyek ekowisata kabupaten Gowa, ditempat ini pernah terjadi pertarungan kehebatan 3 wali (Syeikh Yusuf, Dato Pagentungan, Lo’mori Antang) sehingga muncul istilah “Ammawang Ngasengmi Pa’ngissenganna” yang merupakan asal muasal penamaan Danau ini. Di Tempat ini jugalah berada kediaman para jemaah An-Nasir.
Jarak yang terlampau jauh untuk menuju Spot ini mengharuskan kami untuk  menumpang sebanyak 3 kali, yang pertama dengan menggunakan pick up hingga depan jalan Allauddin kemudian dilanjut dengan menggunakan pick up menuju jalan poros malino dan ditengah perjalanan hujan pun turun sehingga kami semua basah kuyup, dan kami pun berteduh sejenak didepan rumah warga, setelah hujan reda kami melanjutkan untuk mencari kendaraan yang bisa membawa kami menuju Danau Mawang, dan akhirnya kami mendapat tumpangan sebuah mobil Satpol PP, bak habis dirazia Gepeng (Gelandangan dan Pengemis) oleh satpol PP mau tidak mau kami  harus menumpang dan memasang muka tembok sampai menuju pintu gerbang Danau Mawang, ditengah perjalanan kami bertemu dengan racing mate yang lain yaitu (Amin dan Rahmat), sehingga kami berenam (Hiksan dan Aspar) serta saya dan Inah melanjutkan perjalanan menuju Danau Mawang. Di spot ini kami ditantang oleh panitia untuk menjodohkan nama serta gambar pahlawan yang ada di lembaran kertas. Tidak memerlukan waktu yang lama kami pun langsung diberi clue spot selanjutnya yang merupakan check point di Spot 6 yaitu sebuah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) terbesar di Makassar sejak dibangun pada tahun 1993, semua sampah yang ada di Kota Makassar dan sekitarnya (300 ton/hari) berakhir disini, kemudian kami disuruh untuk mencari sekolah pemulung.
Setelah meminta air minum dirumah warga kami segera menuju TPA Antang dengan menggunakan mini pick up Katana yang hanya memuat 4 orang saja karena kami selalu berempat (Hiksan dan Aspar) Saya dan Inah dengan mudah bisa sampai terlebih dahulu menuju TPA, untuk menuju ke TPA kami harus dua kali mengganti mobil tumpangan dan sebuah mobil Truk berisi Batako mengantar kami berempat menuju TPA Antang.
Sekolah Pemulung di TPA Antang
Bau busuk yang menusuk hidung membuat kami harus memiliki mental yang kuat agar para pemulung tidak merasa didiskriminasi karena pekerjaan mereka, lalat yang berterbangan serta pemandangan yang kumuh Nampak didepan mata, kami pun sampai ke sekolah alam pemulung, disini kami mengadakan bakti sosial, menyerahkan beberapa lembar pakaian layak pakai dan beberapa sembako yang sebelumnya memang telah kami persiapkan atas interuksi panitia. Tak perlu berlama-lama panitia pun memulai tantanganny, di spot ini kami ditantang untuk mengumpulkan sampah plastik yang masih bernilai ekonomis untuk dijual seberat 500 gram. Tanpa dikomando lagi kami pun segera berlari menuju tumpukan yang menyerupai gunung yang berisi sampah, beruntung tim kami mendapat kesempatan pertama dan ditemani oleh anak-anak pemulung, entah karena muka saya seperti artis sehingga banyak anak-anak yang mendekat atau lebih tepatnya mirip badut ancol, tapi justru tim kami terbantu dengan keadaan yang seperti demikian, sehingga kami pun mendapat kurang lebih 1 kilo sampah yang terkumpul yang berarti melebihi target dan mendapat kesempatan pertama untuk melanjutkan perjalanan menuju spot selanjutnya. Rintik hujan mulai turun kami pun terus melesat bahkan berlari-lari kecil keluar menuju jalan raya dan menunggu kendaraan yang lewat dan memberikan kami tumpangan menuju spot selanjutnya. Spot selanjutnya adalah pulau Lakkang, akses menuju pulau ini dengan menggunakan perahu dan dipulau ini terdapat bunker Jepang. nah mau tau cerita selanjutnya, tunggu cerita selanjutnya yah..

bersambung
Ipoel Taripang


Istana Naga Sakti


Beruntung mendapat tumpangan mobil mewah

Naek Perahu menuju Pulau Lakkang